Logo Bloomberg Technoz

IEA memperkirakan pemulihan hanya akan terjadi sebagian tahun depan, sehingga penggunaan minyak global pada 2027 masih akan berada sekitar 620.000 barel per hari di bawah level 2025.

Tingginya biaya bahan bakar telah menekan konsumsi, kata Hardy, dalam konferensi Adipec di Abu Dhabi pada Senin.

Berakhirnya konflik di Timur Tengah dapat memicu penurunan harga yang “cukup tajam” dan mendukung permintaan. Namun, jika situasi saat ini terus berlanjut, pasar minyak mungkin akan menghadapi masa-masa sulit mulai Februari, katanya.

"Ada banyak ketakutan dan risiko dalam harga saat ini," kata Hardy. "Fundamental pasar yang sangat ketat," termasuk rendahnya persediaan dan terbatasnya kapasitas penyulingan cadangan, membuat pasar rentan terhadap gangguan lebih lanjut, tambahnya.

Hardy memperingatkan bahwa pasar minyak saat ini hanya mampu mengatasi gangguan akibat konflik tersebut dengan susah payah, seraya menambahkan bahwa penurunan konsumsi secara musiman sekitar Natal akan memberikan sedikit kelonggaran.

“Jika keseimbangan pasokan dan permintaan saat ini terus berlanjut,” pasar bisa menghadapi “musim semi yang cukup sulit,” ujarnya, merujuk pada hilangnya kapasitas penyulingan di China, Timur Tengah, dan Rusia.

Harga minyak anjlok pada Senin menyusul tanda-tanda kemungkinan kemajuan diplomatik untuk menyelesaikan konflik Iran.

Minyak mentah Brent turun lebih dari 6% dalam perdagangan di London, jatuh ke bawah US$106 per barel, sementara West Texas Intermediate terjun bebas ke bawah US$98 karena investor memangkas sebagian premi risiko yang tertanam dalam harga akibat kekhawatiran akan terulangnya pertempuran.

Cadangan Bahan Bakar

Menurut Hardy, gangguan akibat perang mendorong negara-negara konsumen mendiskusikan perluasan cadangan bahan bakar dan pembangunan rute transportasi alternatif.

Investasi tersebut akan memperkuat ketahanan pasokan, tetapi menuntut pemerintah dan perusahaan menanggung biaya kapasitas yang mungkin hanya memberikan imbal hasil finansial terbatas di luar masa krisis.

Ia menjelaskan penambahan cadangan bensin, diesel, dan bahan bakar jet global untuk kebutuhan 10 hari akan membutuhkan sekitar 600 juta barel, berdasarkan tingkat konsumsi harian sekitar 60 juta barel.

Dengan harga US$100 per barel, dana sebesar US$60 miliar akan terserap hanya untuk bahan bakar tersebut, belum termasuk biaya penyimpanan.

Hardy menyarankan agar pemerintah mulai bersiap untuk membeli stok bahan bakar saat harga menjadi lebih menguntungkan.

Pendapat serupa disampaikan oleh mantan penasihat keamanan energi AS, Amos Hochstein. Ia menyoroti kondisi konsumen di Bangladesh dan India yang kesulitan membeli bahan bakar, serta mendesak pemerintah dan industri untuk melindungi negara-negara dengan ekonomi yang lebih miskin dari guncangan di masa depan.

Hochstein, yang kini menjabat sebagai mitra pengelola global TWG Global, memperkirakan konflik ini akan memicu peningkatan kapasitas penyimpanan dan pembangunan infrastruktur transportasi alternatif, baik untuk minyak mentah maupun produk olahan.

Rute-rute tersebut akan menambah opsi tanpa harus menghilangkan ketergantungan pada Selat Hormuz, katanya.

Menurut Hochstein, pemerintah perlu bekerja sama dengan lembaga keuangan untuk menekan biaya pendanaan dan menarik investasi swasta. Ia memperingatkan bahwa peluang untuk melakukan reformasi bisa sirna begitu krisis saat ini berlalu. 

"Apa pun yang tidak segera dikerjakan cenderung tidak akan pernah terlaksana, karena kita akan terbiasa dengan kenormalan yang baru," katanya.

(bbn)

No more pages