Logo Bloomberg Technoz

Hal ini sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang kembali berekspansi menjadi 52,4 pada September, dari 49,8 pada Agustus. Dia mengklaim impor yang tinggi terkait dengan meningkatnya aktivitas produksi dan investasi. Namun, ketika kenaikan nilai impor terus melampaui ekspor, ketahanan neraca perdagangan dan kemampuan menghasilkan devisa menjadi semakin rentan.

"Menurut kami, kombinasi inflasi yang masih relatif tinggi dan surplus perdagangan yang semakin menyempit menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang menghadapi tekanan eksternal yang cukup kompleks," katanya.  

Dari sisi perdagangan, terdapat risiko yang berasal dari ketergantungan impor energi, perlambatan ekonomi Tiongkok, fragmentasi perdagangan global, dan biaya logistik internasional yang meningkat.

"Kondisi ini perlu dicermati karena surplus perdagangan sebenarnya menjadi salah satu bantalan penting dalam menjaga stabilitas rupiah. Ketika surplus semakin kecil, sementara kebutuhan devisa untuk impor dan pembayaran kewajiban luar negeri tetap tinggi, tekanan terhadap transaksi berjalan dapat meningkat," paparnya.

Dalam pernyataan terakhir, dia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 berpotensi melebar menjadi sekitar 2,49% terhadap produk domestik bruto (PDB), dibandingkan 0,09% pada 2025. Risiko tersebut menjadi semakin besar apabila ketidakpastian MSCI mendorong keluarnya modal portofolio secara berkepanjangan.

(lav)

No more pages