Penurunan harga emas dipicu kombinasi kenaikan harga minyak dunia, kekhawatiran inflasi, serta aksi jual saham teknologi global. Di mana, investor melepas kepemilikan emas untuk menutup kerugian dari investasi di sektor lain.
Sementara itu, harga perak anjlok lebih dari 6% ke level di bawah US$49 per ons, memperpanjang penurunan bulanan menjadi hampir 19%.
Logam mulia ini telah menghapus seluruh kenaikan yang dicapainya sejak awal Desember, saat perak memulai reli dramatis selama dua bulan yang membawa harganya melampaui US$120 per ons. Dalam laporan yang sama juga menyebut bahwa Platinum dan paladium juga mengalami penurunan.
Ekspor Melambat, Impor Diproyeksi Melonjak
Dari dalam negeri, perhatian pasar pada pekan pertama November tertuju pada pengumuman data perdagangan Indonesia periode September 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Berdasarkan konsensus Bloomberg terhadap 22 ekonom per 31 Oktober 2026, ekspor Indonesia diperkirakan tumbuh 6,67% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September. Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekspor Agustus yang mencapai 6,72% yoy.
Sebaliknya, impor diperkirakan tumbuh lebih tinggi mencapai 21% yoy. Angka tersebut melampaui pertumbuhan impor pada Agustus yang tercatat sebesar 19,09% yoy.
Kombinasi perlambatan ekspor dan akselerasi impor berpotensi mengikis surplus neraca perdagangan Indonesia.
Survei Bloomberg memperkirakan neraca perdagangan September mencatat surplus US$1,82 miliar. Jika terealisasi, angka tersebut menyusut 48,7% dibandingkan surplus perdagangan Agustus sebesar US$3,55 miliar.
Kondisi tersebut juga mengindikasikan semakin terbatasnya kontribusi neraca perdagangan sebagai penopang ketahanan eksternal Indonesia, terutama dari sisi penerimaan devisa hasil ekspor.
Sebagai catatan, ekspor Indonesia masih ditopang oleh sektor non-migas seperti minyak sawit mentah (CPO), besi dan baja, serta batu bara. Ekspor non-migas Agustus mencatat kenaikan sebesar 7,32% yoy, sedangkan ekspor migas terkontraksi 5,1%.
Pertumbuhan ekspor itu disebabkan adanya kenaikan harga komoditas global, bukan meningkatnya volume ekspor. Kinerja ekspor migas juga diperkirakan tetap lebih rendah lantaran Indonesia mulai memangkas sebagian ekspor gas alam, salah satunya ke Singapura.
Padahal, Singapura merupakan salah satu negara tujuan ekspor migas terbesar bagi Indonesia. Berdasarkan data BPS, pada Agustus nilai ekspor migas ke Singapura tercatat US$329,7 juta, setara dengan 33,23% dari total ekspor migas ke seluruh negara tujuan yang senilai US$992,16 juta. Sementara, ke China tercatat US$202,08 juta, dan ke Malaysia US$169,59 juta.
Rupiah Masih Dibayangi Tekanan
Sementara itu, pergerakan rupiah sepanjang pekan terakhir Oktober masih menunjukkan volatilitas tinggi. Mata uang Garuda sempat tertekan hingga menyentuh Rp18.180/US$ pada perdagangan Rabu (28/10/2026).
Tekanan terhadap rupiah berasal dari faktor eksternal dan domestik. Dari eksternal, penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang.
Pada perdagangan Rabu, indeks dolar AS menguat 0,1% ke 102,42, sedangkan yield US Treasury naik 3,3 basis poin menjadi 5,02%.
Kenaikan tersebut turut dipicu lonjakan harga minyak mentah Brent sebesar 1,44% ke US$115,52/barel. Pelaku pasar juga mencermati sikap The Fed yang dinilai masih cenderung hawkish di tengah tekanan inflasi.
Meski demikian, rupiah mulai menunjukkan penguatan terbatas menjelang akhir pekan. Pada Jumat (30/10/2026), rupiah ditutup menguat 0,03% ke Rp18.127/US$, setelah sempat melemah hingga Rp18.150/US$ dalam perdagangan intraday.
Penguatan tersebut sejalan dengan apresiasi sejumlah mata uang Asia dan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan minyak setelah muncul kabar upaya diplomasi Washington dengan Teheran.
Sinyal dovish dari bank sentral AS juga mendorong sentimen risk on, sehingga investor kembali menempatkan dana di pasar negara berkembang.
Namun, sikap risk on (penarikan modal) itu belum sepenuhnya merambat ke pasar obligasi domestik. Surat Utang Negara (SUN) hari ini banyak dilepas investor.
Bahkan, yieldtenor 1 tahun kini berada di kisaran 7,02%, diikuti tenor 5 tahun juga naik ke 7,59%, dan tenor 10 tahun melejit 4,1 basis poin (bps) ke 7,67%.
Sebagai catatan, per 28 Oktober investor melepas kepemilikannya di pasar obligasi domestik senilai US$64,4 juta secara harian, dan US$25,2 juta secara mingguan.
Aksi jual tersebut dipicu sentimen perubahan klasifikasi MSCI di pasar saham yang juga berdampak ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Alhasil, penguatan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.108/US$ tadi pagi banyak terpangkas.
Sebagai catatan, sepanjang pekan rupiah telah terpangkas 0,39% menggenapi pelemahan sepanjang Oktober yang sebesar 1,42%.
(lav)





























