OJK memastikan penegakan hukum akan dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan hasil pengawasan dan pemeriksaan, dengan mempertimbangkan karakteristik pelanggaran, tingkat keseriusan perbuatan, serta ketentuan hukum yang berlaku.
“Penyajian informasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pelaksanaan penegakan hukum di bidang pasar modal,” dikutip dari keterangan resmi OJK.
FILM menjadi salah satu emiten yang masuk radar tahap awal OJK terkait penegakan kasus coordinated trading atau goreng-goreng saham di bursa saham Indonesia.
Selain FILM, beberapa emiten kakap yang ikut terseret kasus manipulasi saham di antaranya DSSA, BREN, CUAN, KIOS, SUPR, IMPC hingga SHID.
OJK menjatuhkan denda Rp1,5 triliun pada PT Sinar Mas Tunggal terkait kasus manipulasi harga saham DSSA.
Selain itu, sejumlah sekuritas juga ikut terseret dalam kasus goreng-goreng saham DSSA di antaranya Sinarmas Sekuritas, Aldicaracita Sekuritas, BCA Sekuritas, Amantara Sekuritas, Trimegah Sekuritas, Supra Sekuritas Indonesia, Buana Capital Sekuritas, Waterfront Sekuritas Indonesia dan RHB Sekuritas Indonesia.
Sementara itu, OJK menetapkan Anbo Holdings Ltd sebagai pelanggar dalam kasus penjatahan saham IPO BREN. Perusahaan ini diganjar denda Rp500 miliar.
Selanjutnya, OJK menjatuhkan sanksi kepada Tigonis Capital Pte Ltd sebesar Rp100 miliar untuk kasus penawaran umum saham CUAN.
Beberapa sekuritas yang terseret dalam kasus ini di antaranya Henan Putihrai Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas dan Jurgantara Usman selaku direktur Henan Putihrai Sekuritas.
Manuver Samuel
Jejak transaksi Miming di saham FILM dapat ditelusuri lewat posisi aktif Samuel Sekuritas Indonesia pada emiten studio perfiliman yang dikendalikan Manoj Dhamoo Punjabi tersebut.
Lewat data pemegang saham, Samuel Sekuritas Indonesia masuk ke dalam jajaran investor kakap FILM dengan koleksi 1,05 miliar saham atau setara 9,64% saham beredar perseroan.
Selain itu, Miming juga memegang saham FILM lewat induk Samuel Sekuritas, PT Samuel Tumbuh Bersama. Induk Samuel Sekuritas itu memegang 215,91 juta saham FILM atau setara 1,98% saham beredar.
Mengutip data perdagangan, transaksi Samuel Sekuritas pada saham FILM terbilang intensif dibandingkan dengan saham lainnya. Samuel Sekuritas menampung transaksi mencapai Rp15,8 triliun pada saham FILM selama satu tahun terakhir.
Aktivitas Samuel Sekuritas di FILM itu lebih besar dari gabungan jual beli saham AMMN dan RLCO selama satu tahun terakhir.
Kendati demikian, saham FILM belakangan ambles hampir 100% dari posisi puncaknya di level Rp14.500 per saham pada Januari 2026 lalu. Sampai penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), saham FILM merosot ke level Rp302 per saham.
(naw)


























