Dia menyebut, akibat kondisi tersebut, bisa saja kontrak ekspor gas bumi Indonesia diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu.
“Jadi kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” kata Bahlil kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (21/10/2026), malam.
“Karena kan harus survival kan, harus memenuhi dahulu kebutuhan dalam negeri ya,” ungkap Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil mengklaim bahwa Indonesia tidak melanggar kontrak, meski memangkas kuota ekspor gas ke Singapura.
Penyebabnya menurut Bahlil, besaran volume 31 BBtud tersebut masih dalam batas minimal ekspor yang disepakati dalam kontrak jangka panjang ekspor gas dengan Negeri Singa tersebut.
Bahlil menjelaskan bahwa angka tersebut hanya mencakup sekitar 8% dari total ekspor gas pipa Indonesia ke negara tetangga tersebut.
Bahlil menjelaskan saat ini ekspor pipa gas ke Singapura mencapai 409,5 BBtud yang berasal dari Natuna dan Sumatra.
Ihwal ekspor LNG, dia menyatakan saat ini terdapat 148 kargo LNG setara 1.480 BBtud yang diekspor ke Singapura.
Lantas, bagaimana rekam jejak ekspor gas ke Singapura?
Riwayat Kerja Sama
Kerja sama ekspor gas bumi Indonesia ke Singapura telah berlangsung sejak 2001 melalui proyek pengembangan dan penyaluran gas dari Blok West Natuna, Kepulauan Riau.
Proyek tersebut diluncurkan pada Januari 2001 melalui kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan konsorsium perusahaan migas yang mengoperasikan sejumlah lapangan di kawasan Natuna Barat.
Gas dialirkan melalui jaringan pipa bawah laut West Natuna Transportation System (WNTS) sepanjang sekitar 656 kilometer (km) menuju Singapura.
Dalam proyek tersebut, gas dari 17 lapangan di West Natuna dipasok kepada Sembcorp Gas Ltd. berdasarkan kontrak jual beli gas dengan jangka waktu 22 tahun.
Volume penyaluran rata-rata yang disepakati mencapai sekitar 325 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), dengan nilai kontrak diperkirakan mencapai US$8 miliar.
Kerja sama tersebut kemudian diperluas melalui proyek penyaluran gas dari Sumatra Selatan ke Singapura.
Pada Agustus 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri bersama Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong meresmikan jaringan pipa transmisi Grissik-Singapura yang mengalirkan gas dari Sumatra Selatan ke Pulau Jurong.
Berdasarkan kesepakatan kedua negara, pasokan gas Sumatra Selatan tersebut dikontrak untuk jangka waktu 20 tahun dengan potensi nilai transaksi sekitar US$9 miliar.
Gas tersebut digunakan Singapura untuk mendukung pembangkitan listrik dan memenuhi kebutuhan energi sektor industri.
Dalam perkembangannya, Singapura mendapatkan pasokan gas dari Indonesia yang berasal dari Blok Corridor di Sumatra Selatan yang dioperasikan ConocoPhillips dan Blok Jabung di Jambi yang dioperasikan PetroChina.
Gas tersebut disalurkan melalui pipa transmisi Grissik-Singapura milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).
Berdasarkan data Kementerian ESDM, pipa Grissik-Singapura memiliki kapasitas penyaluran maksimum sebesar 465 MMSCFD.
Adapun, pasokan lainnya berasal dari lapangan-lapangan di Blok Natuna Barat melalui jaringan WNTS yang memiliki kapasitas penyaluran sekitar 325 MMSCFD.
Singapura sendiri mulai mengimpor LNG pada 2013 sebagai bagian dari upaya diversifikasi pasokan energi.
Negara kota itu membangun terminal LNG di Pulau Jurong untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan gas melalui jaringan pipa dari negara tetangga.
Adapun, Singapura memang mengimpor cukup besar gas dari Indonesia dan Malaysia. Sekitar 60% kebutuhan gas bumi Singapura dipasok melalui jaringan pipa dari kedua negara tetangga tersebut.
(azr/wdh)































