Adapun, pabrik baterai milik Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) tersebut sudah memulai tahap commissioning dan beroperasi bertahap pada Agustus 2026.
“Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya udah mulai produksi. Dengan demikian, maka sudah ada tiga pabrik baterai mobil kita yang ada di Indonesia. Satu yang punya Hyundai, yang awal 10 giga, kemudian satunya juga yang kemarin diresmikan di Halmahera ini yang dilakukan oleh investor dari China. Yang ketiga CATL kerja sama dengan Antam yang akan diresmikan oleh Bapak Presiden,” tutur Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil mengakui masih ada sekitar 11.000 desa di Indonesia belum teraliri listrik, salah satunya dipicu masalah nilai keekonomian pembangunan jaringan listrik.
Bahlil menjelaskan biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan kelistrikan di desa terkadang tidak sebanding dengan potensi pendapatan dari jumlah pelanggan di desa tersebut.
Dia menegaskan biaya investasi untuk membangun infrastruktur kelistrikan di daerah cukup tinggi, terlebih titik-titik yang belum teraliri listrik sulit dijangkau oleh transportasi darat maupun laut.
“Kalau desa di wilayah Kepulauan, itu laut. Untuk PLN masuk, itu antara biaya investasi dan pelanggannya itu tidak hitungan ekonominya enggak masuk,” kata Bahlil kepada awak media di Karawang, Jawa Barat, Kamis (16/10/2026).
Untuk itu, Bahlil menargetkan untuk memberikan program Lisdes atau pembangunan infrastruktur kelistrikan di 4.000 desa pada tahun ini.
Dia menyatakan pada 2025 sudah terdapat sekitar 1.400 titik yang teraliri listrik dengan diberikan program Lisdes.
“Pada 2025, itu kan 1.400. Pada 2026, 4.000 lebih. Jadi kita insyaallah perlahan-lahan kita agresif untuk melakukan ini,” tutur Bahlil.
Sebelumnya, Kementerian ESDM telah melakukan penandatanganan kontrak tahap I untuk program Lisdes di 1.520 lokasi dengan anggaran Rp4 triliun, dari total anggaran program listrik desa 2026 senilai Rp10,3 triliun.
Anggaran listrik desa sebesar Rp10,3 triliun bersumber dari rupiah murni Rp994 miliar dan anggaran belanja tambahan (ABT) Rp9,3 triliun.
Saat ini, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) sedang menyusun untuk menyelesaikan dokumen perencanaan program listrik desa bagi 2.330 lokasi.
Untuk tahun ini, ditargetkan 17.853 pelanggan mendapatkan manfaat program Lisdes.
“Anggaran dari program Lisdes 2026 telah ditetapkan sebesar Rp10,3 triliun yang terdiri dari rupiah murni reguler Rp994 miliar dan anggaran tambahan sekitar Rp9,3 triliun,” kata Plt Dirjen Ketenagalistrikan Tri Winarno di Komisi XII DPR, Kamis (4/6/2026).
Tri menjelaskan program Lisdes periode 2026—2027 dirancang dengan pembangunan jaringan distribusi kelistrikan dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal yang mencakup 3.850 lokasi dengan kebutuhan anggaran Rp18,65 triliun.
Sepanjang 2025, program Lisdes sudah menjangkau 1.403 lokasi. Dari besaran itu, telah dibangun jaringan tegangan menengah (JTM) sepanjang 3.773 km, jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 3.056 km, dan gardu distribusi berkapasitas total 92.300 kilovolt ampere (kVA).
Dalam kesempatan itu, Tri juga mengungkapkan berdasarkan akhir 2025 masih terdapat 10.068 lokasi yang belum teraliri listrik.
Perinciannya, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi; Kalimantan 1.099 lokasi; Sulawesi 799 lokasi; Sumatra 985 lokasi; dan Jawa 1.630 lokasi.
“Di mana konsentrasi terbesar berada di wilayah Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara mencapai 5.555 lokasi atau lebih dari 55% dari total yang kita rencanakan, yang mencerminkan tantangan geografis kepulauan atau keterpencilan wilayah yang sangat berat,” ungkap Tri.
(azr/ros)































