Dengan teknologi ini, perusahaan dapat menampilkan menu digital yang dipersonalisasi bagi pelanggan tersebut serta mempermudah proses pembayaran.
“Kami masih dalam tahap awal, dan kami akan terus menguji, mempelajari, serta mengembangkan apa pun yang terbukti berhasil,” kata Niccol.
Berbagai jaringan restoran besar telah menguji penggunaan AI di layanan drive-thru selama bertahun-tahun, namun teknologi ini belum diadopsi secara luas di seluruh industri.
Burger King, misalnya, tidak berencana untuk memperluas penerapan sistem pemesanan berbasis AI yang sedang mereka uji coba, dengan alasan bahwa pelanggan lebih memilih untuk berinteraksi langsung dengan manusia.
Sementara itu, McDonald’s tengah menguji versinya sendiri, yang diklaim dapat menghemat puluhan jam kerja per restoran setiap minggunya untuk dialihkan ke tugas-tugas lain.
Pada hari Kamis, Starbucks melaporkan perolehan laba yang melampaui ekspektasi, didorong oleh strategi yang berfokus pada peningkatan kualitas restoran, pelayanan pelanggan, serta peluncuran menu-menu baru.
(bbn)






























