Logo Bloomberg Technoz

Tri kembali menegaskan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2027 bakal menekankan kestabilan dari pasar global dan kebutuhan bijih smelter domestik.

Dalam kesempatan itu, Tri mengungkapkan kuota produksi bijih nikel dalam RKAB 2026 hasil revisi mencapai 290—300 juta mt, naik dari kuota awal tahun sekitar 260–270 juta mt.

Tri juga memastikan seluruh RKAB hasil revisi telah diterbitkan. “Totalnya antara 290—300an [juta metrik ton] lah [kuota produksi nikel hasil revisi RKAB],” kata Tri.

Sebagai informasi, BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, mempertahankan proyeksi rata-rata harga logam nikel sepanjang 2026 di level US$17.000/mt, lantaran pasar nikel global yang masih mencatat surplus meski keseimbangan pasokan dan permintaan mulai mengetat.

Produksi nikel dunia menuju keseimbangan baru./dok. BMI

Berdasarkan riset terbarunya, BMI meramal surplus pasar nikel diperkirakan menyusut menjadi 75.500 mt pada 2026, dari 284.000 mt pada 2025.     

Akan tetapi, BMI menilai kondisi pasar yang makin seimbang tersebut masih belum cukup untuk membawa nikel ke posisi defisit. 

Produksi nikel olahan global diproyeksikan turun 1% secara tahunan menjadi 3,84 juta mt pada 2026 akibat ketidakpastian kebijakan Indonesia dan mengetatnya ketersediaan bijih.

Sementara itu, konsumsi nikel global diperkirakan tumbuh 4,7% secara tahunan menjadi 3,77 juta ton pada 2026.

Pertumbuhan permintaan terutama ditopang oleh produksi baja nirkarat atau stainless steel yang masih menjadi penyangga utama konsumsi nikel.

Dari sisi persediaan, gabungan stok on-warrant di LME dan SHFE mencapai 349.000 mt per 30 September 2026, naik 24,6% sejak awal tahun.

“Kami mempertahankan perkiraan harga nikel tahunan rata-rata 2026 pada level US$17.000/mt, karena sikap kebijakan Indonesia yang lebih akomodatif terhadap sektor nikel dalam negeri telah meredakan kendala pasokan bahan baku,” tulis BMI dalam riset terbarunya, Kamis (8/10/2026).

“Sementara itu, kelebihan pasokan di pasar yang masih terlihat dan tingkat persediaan yang tinggi terus menekan momentum kenaikan harga yang sempat mendominasi pada awal tahun ini,” tegas BMI.

BMI memperkirakan arah harga nikel ke depan masih akan sangat bergantung pada kebijakan pasokan Indonesia.

Pendekatan yang lebih fleksibel terhadap RKAB dinilai dapat memperkuat kelebihan pasokan dan membatasi potensi kenaikan harga sepanjang sisa tahun.

Sebaliknya, kebijakan pengelolaan pasokan bijih yang lebih ketat dapat memberikan dorongan terhadap harga.

Sekadar informasi, kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini berada di rentang 260 juta mt sampai 270 juta mt, terpelanting dari realisasi produksi tahun lalu sebanyak 320 juta mt.

Nikel dilego di harga US$15.605/mt di LME hari ini, turun tipis 0,15% dari penutupan hari sebelumnya.

(azr/wdh)

No more pages