Logo Bloomberg Technoz

Banyak pengembang pusat data beralih ke gas alam untuk memenuhi permintaan listrik yang sangat besar, dengan mengandalkan sumber energi, baik baik yang terhubung maupun tidak terhubung ke jaringan listrik (grid).

Sebagian besar emisi yang diperkirakan muncul pada 2030 akan berasal dari sumber-sumber yang tidak terhubung langsung ke jaringan listrik—seringkali dibangun oleh perusahaan teknologi untuk menghindari waktu tunggu yang lama dalam proses koneksi.

Menurut Fisher, jumlah emisi ini bisa melampaui 460 juta metrik ton, kira-kira setara dengan total emisi tahunan Meksiko.

Helen Kou, analis BloombergNEF, mengatakan jika terjadi pertumbuhan signifikan dalam penggunaan tenaga gas untuk fasilitas-fasilitas baru, "Anda bisa menduga emisi akan meningkat dari tahun ke tahun." 

Namun, seberapa besar kenaikannya merupakan pertanyaan yang sulit dijawab. Ada begitu banyak ketidakpastian dalam proyeksi emisi listrik, sehingga selisih antara estimasi terendah dan tertinggi setara dengan jumlah listrik yang melebihi gabungan permintaan California dan Florida.

Estimasi Sierra Club mengenai dampak iklim dari pembangunan pusat data lebih tinggi daripada perkiraan lain yang telah dirilis sejauh ini.

Rentang proyeksi yang luas ini disebabkan oleh ketidakpastian mengenai berapa banyak fasilitas yang pada akhirnya akan dibangun, teknologi apa yang akan digunakan, serta seberapa besar kapasitas energi terbarukan yang akan mulai beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.

Pada Januari, organisasi nirlaba lingkungan Union of Concerned Scientists memproyeksikan bahwa listrik berbahan bakar fosil untuk pusat data dapat meningkatkan emisi sektor kelistrikan AS sebesar 19% hingga 29%, atau mencapai 342 juta ton per tahun pada 2035.

Pada Juni, sejumlah peneliti dari AS dan Kanada menerbitkan artikel jurnal yang memproyeksikan kenaikan emisi di sektor tersebut sebesar 28%.

Perkiraan lain menunjukkan sektor listrik AS akan terus mengalami dekarbonisasi seiring semakin kompetitifnya energi terbarukan dibandingkan dengan bahan bakar fosil, meski terjadi ledakan pembangunan pusat data.

Firma riset yang memproyeksikan penggunaan energi dan emisi CO₂, Rhodium Group menemukan bahwa dalam skenario emisi tertinggi untuk 2040, emisi gas rumah kaca sektor ini justru akan turun 24% di bawah level 2025.

Emisi dari sektor listrik telah menurun selama dua dekade. (Bloomberg)

Jika tren pembangunan pusat data AI menyebabkan emisi mencapai batas atas yang diproyeksikan oleh para peneliti tersebut, hal ini menandai pembalikan tren ekonomi dan kebijakan selama dua dekade terakhir yang sebelumnya berupaya mengurangi polusi iklim di sektor kelistrikan AS.

Emisi dari sektor kelistrikan mencapai puncaknya pada 2007. Pada 2009, berkat kemajuan dalam teknologi fracking, AS menjadi produsen gas alam terbesar di dunia. Lonjakan fracking ini kemudian menurunkan harga gas alam, sehingga menggantikan pembangkit listrik tenaga batu bara—sumber energi yang lebih polutif—di seluruh AS.

Sementara itu, Badan Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency/EPA) menyusun regulasi untuk menekan emisi karbon dari pembangkit listrik, dan mantan Presiden Joe Biden menetapkan target dekarbonisasi jaringan listrik AS sepenuhnya paling lambat pada 2035.

Saat ini, harga gas alam ada di level terendah dalam sejarah, dan Presiden Donald Trump telah melakukan pencabutan besar-besaran terhadap aturan iklim. Hal itu turut mendorong kenaikan kembali emisi sektor listrik AS pada 2025.

Analisis Sierra Club ini merujuk pada laporan publik dan proyeksi pusat data dari kelompok-kelompok lain, termasuk data dari Environmental Integrity Project mengenai jumlah pembangkit listrik yang diperkirakan akan beroperasi dan estimasi emisinya hingga 2030.

Pembangkit listrik yang terhubung ke jaringan saja diproyeksikan meningkatkan emisi dasar 2030 sebesar 10%, atau 154 juta ton CO₂. Belum lagi proyek-proyek "bring-your-own-power" (penyediaan energi mandiri).

Menurut analisis terpisah oleh Earthjustice dan Better Data Center Project, empat per lima dari kebutuhan energi untuk proyek-proyek tersebut dapat dipenuhi melalui gas alam. Peningkatan polusi udara dan emisi iklim lokal akibat pembangkit-pembangkit tersebut telah memicu penolakan terhadap pembangunan pusat data di berbagai wilayah AS.

Brendan Pierpont, direktur bidang kelistrikan di Energy Innovation—lembaga think tank nonpartisan yang fokus pada kebijakan energi dan iklim—menyatakan jika seluruh pusat data yang direncanakan benar-benar dibangun tepat waktu, dan jika sejumlah fasilitas tersebut menggunakan gas alam untuk menggerakkan turbin yang tidak efisien selama 24/7, hal itu dapat memicu lonjakan emisi dari sektor kelistrikan.

"Tentu saja ada risiko bahwa jumlah emisi tersebut cukup besar untuk menghambat kemajuan kita selama bertahun-tahun dalam mengurangi emisi sektor listrik," katanya. "Namun, hal itu belum tentu terjadi." 

Namun, Pierpont mengatakan bahwa sulit untuk membuat model emisi pusat data ketika hanya sedikit yang diketahui mengenai faktor-faktor seperti penumpukan pesanan turbin gas, waktu tunggu untuk koneksi jaringan listrik, atau berbagai hal lain yang dapat memperlambat atau menghentikan proyek. 

"Ada ketidakpastian yang sangat besar, baik terkait skala permintaan pusat data yang pada akhirnya akan dibangun dan ditambah, maupun strategi pasokan listrik," kata Pierpont.

Banyak proyek berpotensi tertunda atau dibatalkan. Baru bulan lalu, Oracle Corp mengajukan pemberitahuan force majeure kepada pengembang pusat data Project Jupiter miliknya di New Mexico, mengatakan ada risiko bahwa pusat data tersebut tidak akan beroperasi pada 2028 sesuai rencana akibat hambatan regulasi dan penolakan masyarakat.

"Pertanyaan besar saat ini adalah bagaimana membuat perkiraan permintaan proyek yang akurat," kata Kou dari BloombergNEF.

(bbn)

No more pages