10 saham laggards pada perdagangan Kamis (29/10/2026) berdasarkan data Bloomberg:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 20,61 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengurangi 8,88 poin
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengurangi 7,41 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) mengurangi 7,34 poin
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mengurangi 5,07 poin
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membebani 4,81 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengurangi 4,69 poin
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 4,02 poin
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengurangi 3,83 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membebani 3,7 poin
Panin Sekuritas memaparkan, pada Sesi I siang hari ini IHSG ditutup melemah 2,64% di posisi 5.142, di mana pasar masih terbebani oleh tekanan outflow oleh asing yang saat ini tercatat net outflow mencapai Rp13,89 triliun sejak 16 Oktober 2026, terlebih pada Sesi I siang hari ini investor asing lanjut net sell Rp900 miliar.
“Kami mencermati pasar masih ingin melihat penegakan aturan yang kredibel sebelum mengevaluasi kembali eksposur mereka seiring SRO-OJK tengah menempuh berbagai upaya untuk menanggapi kekhawatiran terkait reklasifikasi MSCI,” terang Panin Sekuritas.
Dalam catatan yang sama, Panin menyebut, pertahankan cautious bias terhadap pasar karena harga minyak yang masih tinggi terus membebani nilai tukar rupiah dan aksi jual saham oleh asing yang terus berlanjut berisiko spillover terhadap pasar SBN.
Selain itu, dari global, Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mempertahankan suku bunga acuan yang sesuai ekspektasi pasar, dengan alasan perlunya lebih banyak data dalam upaya memerangi inflasi, meskipun tekanan inflasi masih tinggi.
Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di rentang target 3,75%–4,00% menyusul kenaikan sebesar 25 bps pada bulan September yang merupakan kenaikan pertama sejak tahun 2023.
Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan, Federal Reserve memerlukan informasi lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang untuk menentukan sikap kebijakan yang tepat guna memastikan inflasi kembali ke sasaran 2% secara tepat.
Hasilnya, pasar keuangan mengantisipasi kemungkinan sebesar 85% akan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve bulan Desember, menguat dari 78,3% pada Selasa.
“Secara umum, semua bank sentral tersebut menghadapi tantangan yang sama, yaitu harga bahan energi yang tinggi dan terus meningkatnya tekanan inflasi,” mengutip paparan Phillip Sekuritas Indonesia, namun, itu tidak berarti mereka secara otomatis berada dalam mode pengetatan kebijakan moneter.
Selanjutnya, perhatian investor saat ini tertuju pada data rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index AS malam nanti waktu setempat, yang dapat memberikan pandangan lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
(fad)




























