Namun, perbedaan antara data tersebut—terutama karena kapal tanker kini mematikan transponder satelit mereka guna menyembunyikan lokasi dan meminimalkan risiko serangan—menjadi tantangan bagi para trader dan investor.
Hal ini menyulitkan mereka untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai ekspor dari kawasan tersebut, yang sangat krusial bagi penetapan harga global dan penilaian ketersediaan pasokan minyak.
Bagi Arab Saudi, ekspor mulai meningkat setelah negara itu menambah pengiriman melalui Selat Hormuz, menyusul penutupan jalur pipa Timur-Barat akibat serangan bulan lalu.
Kembali beroperasinya pipa tersebut kini membuka kembali rute Laut Merah maupun Selat Hormuz, sehingga membantu kerajaan tersebut memperoleh keuntungan dari lonjakan harga minyak di masa perang, sambil menangkis gelombang serangan dari kelompok Houthi Yaman.
Pendapatan minyak yang lebih tinggi kini semakin penting bagi Arab Saudi, terutama karena serangan terhadap bandara dan fasilitas minyak dalam beberapa pekan terakhir telah mengganggu perjalanan udara, secara efektif melumpuhkan kawasan keuangan Riyadh, serta menyoroti kondisi ekonomi kerajaan tersebut.
Saudi Aramco menolak memberikan komentar, sementara Kementerian Energi tidak menanggapi permintaan komentar.
Menurut data Vortexa, Aramco telah meningkatkan ekspor melalui Laut Merah—terutama dari Pelabuhan Yanbu—menjadi 2,5 juta barel per hari sepanjang bulan ini, naik dari 2,4 juta barel per hari pada September.
Sementara itu, ekspor melalui Teluk Persia sedikit menurun menjadi 4 juta barel per hari, dari 4,2 juta barel per hari pada September, akibat serangan berulang yang mengganggu aliran pasokan. Kpler juga mencatat penurunan volume dari kedua pesisir tersebut.
Menurut pihak yang mengetahui, Aramco telah meminta sejumlah pembeli Asia untuk kembali mengambil minyak dari Yanbu mulai November—kali pertama dalam tiga bulan terakhir.
Sebelumnya, para pembeli tersebut mengambil minyak mereka dari sebuah pelabuhan di Mesir di Laut Mediterania, yang dapat diakses dengan kapal tanker pengumpan (shuttle tanker) dan jaringan pipa, sehingga menghemat perjalanan ke Laut Merah di tengah meningkatnya ancaman Houthi.
Penjualan ke Eropa
Bloomberg melaporkan Aramco juga telah memberi tahu para pembeli di Eropa—sebelumnya mengalami pembatalan jadwal pemuatan—bahwa mereka dapat mengajukan penawaran untuk kargo secara spot pada bulan ini dan bulan depan, guna mengganti volume yang sempat tertunda.
Peningkatan pengiriman dari Arab Saudi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya arus pasokan dari wilayah lain di Teluk Persia.
Kuwait, yang sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz, kini mengekspor minyak dalam jumlah yang setara dengan sebelum masa perang, sementara volume pengiriman Irak bulan lalu juga mendekati level sebelum konflik.
Menurut Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA), Uni Emirat Arab—salah satu negara yang paling berhasil meloloskan kapal tanker melalui jalur perairan tersebut—telah meningkatkan produksinya hingga mencapai rekor tertinggi.
Arab Saudi telah memberi tahu Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa mereka meningkatkan produksi sebesar sepertiga pada September menjadi lebih dari 8,3 juta barel per hari, rekor tertinggi selama masa perang.
Kilang-kilang dalam negeri biasanya mengonsumsi sekitar 3 juta barel per hari, tidak termasuk fasilitas Jazan dengan kapasitas 400.000 barel per hari, yang saat ini ditutup akibat serangan Houthi.
Aliran pasokan yang kuat dari kawasan ini telah membantu meredakan tekanan pada harga pasokan fisik minyak dari wilayah tersebut.
Selisih harga minyak mentah Oman-Dubai—tolok ukur kekuatan pasar minyak mentah fisik dari kawasan Teluk—merosot ke level terendah sejak Juli pada awal bulan ini. Berdasarkan penilaian General Index, harga tersebut di kisaran US$6 per barel pada Selasa, dibandingkan dengan hampir US$34 per barel pada September.
(bbn)






























