IHSG dibuka menguat pagi tadi, tetapi langsung berbalik arah hingga melemah dan terpeleset di zona merah. Pelemahan IHSG tertekan sentimen global maupun domestik, seperti yang dipapar Mirae Asset Sekuritas Indonesia, investor tetap berhati-hati terhadap keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed), kendatipun mereka mempertahankan suku bunga acuan pada rentang 3,75%–4,00% yang sesuai ekspektasi market.
Investor mencermati tekanan inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya kembali ke target 2%, sehingga peluang pengetatan moneter pada pertemuan Desember berikutnya tetap terbuka, dengan probabilitas 83,26% kenaikan 25 bps.
Jeda suku bunga pada pertemuan kali ini dinilai bukan tanda selesai dari siklus pengetatan, melainkan penundaan strategis agar The Fed dapat mengumpulkan lebih banyak data ekonomi sebelum pertemuan berikutnya.
“Apalagi dalam internal The Fed, terdapat dua anggota komite yang menolak jeda dan memilih kenaikan 25 bps. Dissent atau perbedaan pendapat dari dua pejabat FOMC tersebut menjadi pesan utama bagi para investor,” mengutip Mirae Asset Sekuritas Sekuritas dalam catatan terbarunya, Kamis (29/10/2026).
Selain kebijakan moneter, kondisi pasar global juga dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap fasilitas kilang minyak di Arab Saudi memicu kegelisahan pasar akan gangguan pasokan minyak mentah dunia, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga minyak mentah Brent kembali di atas US$110 per barel.
Dari sisi dalam negeri, investor juga wait–and–see, mencermati rencana BEI mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari penghitungan IHSG mulai 2 November 2026. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks, tetapi dalam jangka pendek dapat memicu penyesuaian portofolio dan perubahan persepsi investor terhadap saham-saham yang terdampak.
Terlebih lagi, proses komunikasi antara otoritas Indonesia dan MSCI juga masih menjadi perhatian karena kepastian mengenai aksesibilitas pasar, transparansi kepemilikan saham, dan implementasi reformasi akan menentukan kepercayaan investor asing.
(fad)





























