Logo Bloomberg Technoz

Founder & Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menilai posisi Indonesia dalam menghadapi perubahan tatanan global perlu ditopang hubungan diplomatik yang kuat. Indonesia memiliki peluang memperluas kerja sama dengan berbagai negara sembari mempertahankan fleksibilitas kebijakan luar negeri sesuai kepentingan nasional.

Menurut Dino, konsistensi dan kredibilitas dalam hubungan internasional menjadi modal penting untuk menjaga relevansi Indonesia di tengah persaingan global. Dalam konteks tersebut, ASEAN juga memiliki peran strategis sebagai landasan kerja sama regional dan sarana memperkuat kepentingan bersama.

“Bagi Indonesia, ASEAN adalah pijakan yang tidak bisa ditawar. Ketika kita membawa nama Indonesia sekaligus ASEAN, kredibilitas dan relevansi kita menjadi semakin kuat. Di tengah dinamika global yang tidak selalu dapat kita kendalikan, hubungan erat dengan negara-negara ASEAN menjadi kekuatan penting untuk saling mendukung dan menjaga kepentingan bersama,” ujar Dino.

Pandangan tersebut menempatkan diplomasi dan kemitraan regional sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia. Hubungan internasional yang konsisten dinilai dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih kondusif bagi kerja sama ekonomi dan investasi jangka panjang.

Ketahanan Ekonomi Jadi Kunci Hadapi Tekanan Global

Dari sisi ekonomi, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengidentifikasi sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi China, fragmentasi perdagangan, hingga persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.

Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia melalui berbagai saluran, termasuk pergerakan pasar keuangan, harga energi, suku bunga global, dan perdagangan internasional. Karena itu, ketahanan ekonomi membutuhkan kebijakan yang mampu merespons tekanan eksternal sekaligus memperkuat sumber pertumbuhan dalam negeri.

Josua menekankan pentingnya efektivitas kebijakan fiskal dan moneter, optimalisasi belanja pemerintah, serta peningkatan produktivitas. Berbagai upaya tersebut dinilai dapat membantu menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi ketika kondisi global masih diwarnai ketidakpastian.

“Selain memahami tantangan yang ada, kita juga perlu melihat peluang yang dapat dimaksimalkan. Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026–2027 tetap relatif resilien, di kisaran 5,2%–5,3%. Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang cukup kuat meskipun kondisi global belum sepenuhnya kondusif,” ujar Josua.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan ekonomi domestik masih terbuka. Namun, upaya untuk merealisasikannya membutuhkan investasi produktif, implementasi kebijakan yang efektif, serta reformasi struktural yang mampu meningkatkan kualitas dan daya saing perekonomian.

Bagi pelaku usaha dan investor, situasi tersebut menuntut perencanaan yang matang dan pengelolaan risiko secara disiplin. Keputusan investasi juga perlu mempertimbangkan prospek jangka panjang agar peluang yang muncul di tengah ketidakpastian dapat dimanfaatkan secara terukur.

“Peluang tetap terbuka bagi pelaku usaha dan investor yang memiliki perencanaan matang, menerapkan pengelolaan risiko secara disiplin, dan berorientasi jangka panjang. Penguatan fondasi ekonomi dan kualitas investasi menjadi penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan yang tersedia,” tambah Josua.

Perkembangan AI Buka Peluang Investasi di Asia

Selain membahas kondisi geopolitik dan ekonomi domestik, kelas “Navigating Indonesia’s Next Chapter” turut mengulas perubahan pasar modal Asia serta pengaruh teknologi terhadap arus investasi regional.

Head of Investments Eastspring Al-Wara’ Investments, Lai Eu-Roy, menyoroti konsultasi MSCI mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia. Perkembangan tersebut kembali menempatkan transparansi, tata kelola, dan kepercayaan investor sebagai aspek penting dalam meningkatkan daya saing pasar modal domestik.

Di sisi lain, pertumbuhan industri AI dan perubahan rantai pasok global berpotensi menciptakan peluang investasi baru di Asia. Negara yang memiliki keterkaitan dengan manufaktur teknologi, infrastruktur digital, dan pengembangan pusat data dinilai memiliki posisi yang perlu dicermati dalam perkembangan industri tersebut.

“Perkembangan perdagangan global di sektor AI akan menjadi salah satu faktor penting bagi pasar Asia. Negara seperti Korea Selatan dan Thailand memiliki keterkaitan yang kuat dengan rantai pasok AI melalui sektor manufakturnya. Sementara itu, pengembangan pusat data di Indonesia juga menjadi salah satu area yang perlu dicermati dalam melihat bagaimana perkembangan teknologi membentuk lanskap ekonomi global,” ujar Lai Eu-Roy.

Menurut Lai, prospek investasi suatu negara tidak hanya ditentukan oleh fundamental ekonomi domestik. Posisi negara tersebut dalam rantai pasok global dan perkembangan teknologi juga dapat memengaruhi daya tarik investasi serta prospek pertumbuhan industrinya.

Karena itu, investor perlu mempertimbangkan keterkaitan ekonomi antarnegara, arah perkembangan industri, dan risiko pasar sebelum menentukan strategi investasi. Pendekatan tersebut membantu investor mengidentifikasi peluang yang sesuai dengan tujuan serta jangka waktu investasinya.

Perkembangan AI juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Selain mendorong pertumbuhan industri teknologi, perubahan tersebut dapat memengaruhi pola perdagangan, kebutuhan infrastruktur, dan alokasi modal di berbagai negara.

Bagi Indonesia, perkembangan pusat data menjadi salah satu area yang dapat dicermati seiring meningkatnya peran infrastruktur digital dalam perekonomian. Namun, pemanfaatan peluang tersebut tetap perlu disertai pertimbangan terhadap dinamika pasar dan perubahan rantai pasok global.

Perluas Perspektif untuk Perencanaan Finansial

Diskusi dalam Wealth Wisdom 2026 memperlihatkan keterkaitan antara diplomasi, kebijakan ekonomi, dan perkembangan pasar investasi. Kredibilitas hubungan internasional dapat memperkuat posisi Indonesia, sementara kebijakan ekonomi yang efektif dibutuhkan untuk menjaga ketahanan domestik.

Pada saat yang sama, perubahan teknologi dan rantai pasok global turut membentuk peluang serta risiko investasi. Pemahaman terhadap berbagai faktor tersebut menjadi penting bagi individu maupun pelaku usaha dalam menyusun keputusan finansial yang lebih terukur.

Melalui Wealth Wisdom 2026, Permata Bank menghadirkan ruang edukasi dan pertukaran perspektif agar nasabah dapat memahami dinamika ekonomi dan investasi secara lebih menyeluruh. Program ini mengajak peserta untuk tidak hanya berfokus pada peluang pertumbuhan kekayaan, tetapi juga memperhatikan kesiapan finansial dalam menghadapi perubahan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tema “Finding Balance, Building Resilience”, yang menekankan pentingnya keseimbangan dan ketahanan dalam menghadapi ketidakpastian. Dengan memahami perkembangan ekonomi, arah pasar, dan potensi risiko, nasabah diharapkan dapat menyelaraskan keputusan finansial dengan kebutuhan serta tujuan jangka panjang.

Di tengah lanskap global yang terus berubah, perencanaan yang matang dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan kekayaan. Melalui edukasi dan diskusi lintas perspektif, Permata Bank berupaya membantu nasabah memperluas pemahaman agar lebih siap menghadapi perubahan ekonomi dan investasi.

(rrs/RAD)

No more pages