Bukan dampak Siklon Tropis Arnab
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa hujan tersebut bukan disebabkan oleh Siklon Tropis ARNAB, melainkan dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lainnya, berupa sirkulasi siklonik di Laut Andaman utara Aceh, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Sumatra bagian utara.
“Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keberadaan Siklon Tropis ARNAB karena berdasarkan analisis terkini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi cuaca dan gelombang laut di Indonesia. Namun, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah wilayah, terutama di Sumatra bagian utara,” kata Guswanto di Jakarta Selasa (27/10).
Berdasarkan analisis pada 27 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, Siklon Tropis ARNAB berada di sekitar Teluk Benggala pada koordinat 16,0° LU dan 84,8° BT, di luar wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta. Sistem tersebut memiliki kecepatan angin maksimum 90 knot atau sekitar 166 km/jam dan tekanan udara minimum 968 hPa dan dalam 24 jam ke depan, ARNAB diprakirakan bergerak ke arah barat - barat laut mulai memasuki daratan India, serta diprakirakan mulai melemah dalam 2 hari kedepan.
“Perkembangan Siklon Tropis ARNAB terus kami pantau melalui analisis data pengamatan, citra satelit, dan model prediksi cuaca. Berdasarkan analisis saat ini, sistem tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap cuaca dan gelombang laut di Indonesia. Hujan lebat yang terjadi di Aceh dan Sumatra Utara dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lain yang berkembang di sekitar wilayah tersebut,” jelas Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.
(spt)
































