Oleh karena itu, Danantara tengah menjalankan restrukturisasi dan konsolidasi perusahaan pelat merah untuk meningkatkan efisiensi serta memperbaiki kinerja keuangan.
Menurut Dony, struktur kepemilikan BUMN saat ini masih menghadapi persoalan banyaknya perusahaan yang menjalankan bisnis serupa maupun transaksi berlapis antaranak usaha.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan biaya operasional dan mengurangi efisiensi perusahaan. Danantara mencatat terdapat 1.074 perusahaan di bawah pengelolaannya.
Dari jumlah tersebut, Dony menyebut 52% perusahaan mengalami kerugian, sementara 97% dividen yang diterima berasal dari hanya delapan perusahaan.
Atas dasar itu, Danantara menjalankan program konsolidasi, merger, divestasi, dan likuidasi untuk menyederhanakan struktur perusahaan.
Dony mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari peta jalan transformasi BUMN selama lima tahun, dengan tahap awal berfokus pada restrukturisasi dan konsolidasi.
Danantara menargetkan jumlah perusahaan di bawah pengelolaannya dapat berkurang menjadi kurang dari 200 perusahaan. Penyederhanaan struktur tersebut diharapkan dapat memperbaiki tata kelola, menekan biaya, dan meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap dividen.
Laba 8 Bulanan
BPI Danantara membeberkan laba bersih konsolidasi BUMN mencapai Rp214,9 triliun sepanjang Januari-Agustus 2026.
Laba bersih itu naik 18,4% dibandingkan dengan posisi pada periode yang sama tahun lalu sekitar Rp181,5 triliun.
Sementara itu, return on equity (RoE) konsolidasi BUMN yang disetahunkan mencapai 8%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sekitar 7,4%.
“Sekarang perusahaan-perusahaan kita dimanage dengan tata kelola yang baik dan kita dibantu oleh banyak pihak,” kata Dony di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Di sisi lain, Dony mengatakan lembagannya membidik laba bersih sekitar Rp360 triliun pada tahun ini.
Dony menuturkan sejumlah perusahaan pelat merah mencatat pertumbuhan laba yang signifikan secara tahunan.
Misalkan, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan kenaikan laba mencapai 427%. Selanjutnya, PT Pupuk Indonesia mencatat kenaikan laba bersih mencapai 233% secara tahunan.
Sementara itu, Danareksa dan PTPN III masing-masing mencatat pertumbuhan laba bersih 110% dan 55%. Adapun, Pertamina dan Pelindo masing-masing mencetak pertumbuhan laba bersih 48% dan 45%.
Di sisi lain, Dony menambahkan, lembaganya masih melanjuti upaya perampingan di tubuh BUMN. Dia menargetkan sekitar 700 BUMN dapat ditutup sampai akhir tahun ini.
“Jadi di dalam pikiran saya, saat ini adalah kinerja terbaik dari BUMN, termasuk bank-bank kita,” kata dia.
(fik/naw)





























