Survei ini adalah semester kedua dari survei ahli ekonomi pada 2026. Survei dilakukan pada periode 21 September hingga 13 Oktober melalui platform survei online.
Sampel terdiri dari 63 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang, dari akademisi, lembaga penelitian, think tanks, sektor swasta, dan organisasi/institusi multinasional.
Para ahli berasal dari berbagai daerah di Indonesia, yakni Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Sumatra barat, Banten, Bali, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur. Responden dari luar negeri berasal dari Australia, Inggris, Korea Selatan, Tiongkok, serta institusi multinasional.
Proyeksi Ekonomi
Dalam hasil survei tersebut, sebanyak 52% ahli memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi tiga bulan mendatang tidak berubah. Sebanyak 33 dari 63 ahli atau 52 % memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan mendatang tidak berubah dari angka terbaru.
Pada arah melambat terdapat 21 ahli atau 33 %. Perinciannya, sebanyak 16 ahli atau 25 % menjawab ekonomi melambat dan 5 ahli atau 8% menjawab ekonomi melambat signifikan.
Kendati demikian, terdapat 9 ahli atau 14 % yang memperkirakan ekonomi melaju, dan tidak ada ahli yang memperkirakan melaju signifikan.
Efektivitas Kebijakan Fiskal Diragukan
Hasil survei menunjukkan bahwa para ahli masih memiliki keraguan terhadap efektivitas kebijakan fiskal saat ini dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Sebanyak 11 responden menilai kebijakan fiskal sangat tidak efektif dan 21 responden menilai tidak efektif. Sementara itu, kelompok responden terbesar, yaitu 26 ahli, berpendapat bahwa kebijakan fiskal saat ini tidak memberikan dampak terhadap stabilitas ekonomi. Hanya 5 responden yang menilai kebijakan tersebut efektif, dan tidak ada responden yang menilai sangat efektif.
Rata-rata skor tercatat sebesar -0,60, yang mencerminkan penilaian yang secara umum negatif terhadap efektivitas kebijakan fiskal. Nilai ini relatif sama dengan survei sebelumnya yang mencatat rata-rata skor -0,62 , sehingga persepsi secara keseluruhan tidak banyak berubah. Para responden juga melaporkan tingkat keyakinan yang relatif tinggi terhadap penilaian mereka, dengan rata-rata tingkat kepercayaan sebesar 7,90 dari 10.
(lav)





























