Langkah penghematan yang lebih agresif dari Volvo mencerminkan kebijakan serupa yang diambil oleh produsen lain, seperti Volkswagen AG dan BMW AG, yang berupaya menjadi lebih efisien guna menghadapi persaingan yang kian ketat di China.
Mereka juga tengah memperkuat kemitraan lokal dan mengembangkan tim khusus untuk menciptakan fitur-fitur yang lebih sesuai dengan selera konsumen China. Pernyataan Samuelsson mengisyaratkan bahwa langkah-langkah tersebut mungkin belum cukup memadai.
BMW dijadwalkan mulai memasarkan SUV iX3 terbarunya di China bulan depan. Sebelumnya, pada Juni, produsen mobil mewah terbesar di dunia tersebut telah memangkas proyeksi kinerjanya dengan alasan prospek yang kian suram di pasar utamanya itu. Volkswagen pun mengambil langkah serupa bulan lalu.
Samuelsson mengakui telah meremehkan transformasi pesat pasar otomotif China. Ia menambahkan, ke depannya, merek asal Swedia, yang dimiliki oleh Geely dari China sejak 2010, ini akan mengandalkan teknologi dan platform kendaraan dari induk perusahaannya tersebut agar tetap kompetitif.
"Di Tiongkok, Anda perlu menghadirkan produk yang dikembangkan secara regional dengan perangkat lunak khas China, dan di situ tentu saja kami memiliki keunggulan besar karena dapat bekerja sama dan mengembangkan mobil-mobil tersebut bersama Geely," ujarnya dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Kesulitan yang dihadapi Volvo terlihat jelas saat perusahaan melaporkan kerugian pada Jumat—angka yang jauh lebih besar daripada perkiraan para analis. Pabrikan tersebut mengumumkan pemangkasan biaya yang ditargetkan untuk menghemat 5 miliar kronor.
Selain masalah di China, Volvo juga menyebut adanya beban biaya akibat tarif di AS dan penghapusan subsidi EV di negara tersebut.
Untuk kembali ke jalur yang tepat, perusahaan berencana meluncurkan tujuh kendaraan baru untuk pasar Barat dan enam model yang dirancang khusus untuk pasar China sebelum akhir dekade ini.
Di Eropa, Volvo berhasil meningkatkan penjualan meski persaingan dari merek-merek asal China di wilayah tersebut kian sengit.
Upaya Uni Eropa untuk membatasi impor kendaraan hibrida dari negara Asia tersebut mungkin hanya memberikan jeda sementara, karena sejumlah merek—termasuk BYD Co—mulai mendirikan fasilitas produksi di kawasan tersebut.
Samuelsson, yang kembali menjabat pada April 2025 setelah memimpin Volvo selama satu dekade hingga 2022, kini bersiap untuk menyerahkan posisi CEO kepada mantan pimpinan Skoda, Klaus Zellmer. Eksekutif asal Jerman tersebut dijadwalkan mengambil alih jabatan tersebut paling lambat pada 1 Oktober 2027.
(bbn)






























