Logo Bloomberg Technoz

“Untuk menghadapi kondisi tersebut, penanganan dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Pemerintah Provinsi Lampung mengoordinasikan sekitar 350 personel gabungan yang melibatkan BPBD provinsi dan kabupaten, pemadam kebakaran, TNI, Polri, BNPB, BMKG, tim Satgas Darat TNWK, serta mitra terkait,” sebagaimana tertulis dalam keterangan BNPB, Sabtu (24/10/2026).

Modifikasi Cuaca

Pada Jumat (23/10/2026) telah dilakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan.

Dua sortie penyemaian garam atau natrium klorida (NaCl) masing-masing sebanyak 1.000 kilogram dilakukan di wilayah Way Kambas dan Kabupaten Lampung Barat.

Namun, upaya penyemaian awan tidak dapat dilanjutkan ketika kondisi atmosfer tidak menyediakan awan potensial yang memenuhi syarat.

“Pemerintah daerah bersama BNPB dan BMKG kemudian menyesuaikan langkah penanganan dengan kondisi cuaca dan perkembangan di lapangan,” tulis BNPB.

Sebagai catatan, karhutla yang berulang di Taman Nasional Way Kambas dinilai mengancam habitat satwa liar. Sepanjang 2026, kebakaran di kawasan konservasi itu tercatat telah terjadi sebanyak 21 kali.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia, Daryono, mengatakan bahwa tidak ditemukannya satwa mati bukan berarti kebakaran tidak menimbulkan dampak ekologis.

"Perlu dipahami bahwa tidak ditemukannya satwa mati bukan berarti tidak ada dampak ekologis. Kerusakan habitat dan perubahan perilaku satwa juga perlu dipantau," kata Daryono dalam keterangan tertulis, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, kebakaran di kawasan konservasi memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar hilangnya vegetasi.

"Kebakaran dapat mengurangi sumber pakan, merusak tempat berlindung, dan mengganggu jalur pergerakan satwa. Kondisi tersebut juga meningkatkan kemungkinan satwa berpindah ke wilayah yang berdekatan dengan pemukiman," katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa Way Kambas merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang memiliki nilai ekologis tinggi.

Kebakaran yang berulang menunjukkan perlunya memperkuat mitigasi melalui pemetaan risiko, deteksi dini, ketersediaan air, kesiapan sarana pemadaman, pengawasan pascakebakaran, dan perlindungan habitat satwa.

(azr/wdh)

No more pages