Secara umum, ekspor produk olahan nikel pada periode Januari—Agustus 2026 mencapai US$24,55 miliar atau naik 15,69% dari realisasi periode yang sama tahun lalu senilai US$21,22 miliar.
Lebih lanjut, nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia sepanjang tahun ini diprediksi bakal mencapai sekitar US$37—US$40 miliar.
Sebelumnya, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan ekspor produksi hilirisasi dari aluminium, produk olahan nikel, hingga komponen baterai litium sepanjang tahun ini dapat mencapai US$50 miliar atau setara dengan Rp899 triliun.
Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menjelaskan proyeksi ekspor dari produk hilirisasi mineral tersebut, jika terwujud, akan naik sekitar 45% dibandingkan dengan capaian 2024 senilai US$34,5 miliar atau setara Rp620 triliun.
“Hitungan dari Dewan Ekonomi Nasional sampai dengan akhir tahun ini hilirisasi nikel, hilirisasi aluminium, dan hilirisasi tadi komponen-komponen litium baterai itu nilainya akan mencapai sekitar US$50 miliar atau naik hampir sekitar 45% dibandingkan dengan ekspor kita pada 2024,” kata Seto kepada awak media di Istana Negara, Selasa (20/10/2026).
Dalam kaitan itu, Seto mengungkapkan saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang memproduksi komponen baterai litium seperti anoda baterai dan katoda baterai.
Dia mengungkapkan Indonesia telah memiliki pabrik pengolahan litium, meskipun tidak memiliki bahan baku atau sumber daya litium.
“Jadi mungkin ini yang menjadi banyak pertanyaan dan kritik dari orang-orang juga terkait dengan hilirisasi di Indonesia. Sekarang Indonesia menjadi salah satu sumber produsen untuk komponen-komponen baterai litium seperti anoda, katoda baterai,” ujarnya.
“Bahkan kita juga sudah memiliki lithium refinery di mana sebenarnya sumber daya litiumnya kita tidak memiliki di Indonesia,” kata Seto.
Seto juga meramalkan ekspor produk aluminium Indonesia sepanjang 2026 bakal mencapai US$7,2 miliar atau setara dengan Rp129,54 triliun.
Seto menjelaskan hilirisasi aluminium di Indonesia sedang berkembang secara pesat, tidak hanya terjadi di komoditas nikel.
Dia memperkirakan ekspor produk aluminium Indonesia pada tahun ini mengalami lonjakan ke US$7,2 miliar dari nilai ekspor 2024 sejumlah US$3,5 miliar.
“Sekarang [hal] yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tetapi ada dua komponen hilirisasi lainnya yang juga berkembang cukup pesat. Pertama adalah hilirisasi aluminium,” kata Seto.
(azr/wdh)






























