Logo Bloomberg Technoz

INDUSTRI SMELTER

China Mau Tekan Produksi di RI, Hilirisasi Nikel Didesak Berbenah

Azura Yumna Ramadani Purnama
23 October 2026 14:40

Kawasan industri penghiliran nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah./Bloomberg-Dimas Ardian
Kawasan industri penghiliran nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Analis komoditas menilai rencana 4 perusahaan smelter China memangkas produksi di Indonesia harus menjadi  alarm bagi pemerintah untuk membenahi tata kelola hilirisasi nikel; mulai dari keseimbangan pasokan bijih hingga penguatan industri pengolahan lanjutan.

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo Wahyu Laksono menilai tekanan terhadap industri nikel dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat hilirisasi ke tahap yang lebih lanjut, tak sekadar mengejar volume.

Wahyu menyatakan Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada ekspor produk olahan antara dan memperbesar pengembangan industri prekursor, katoda, hingga baterai di dalam negeri agar nilai tambah yang diperoleh lebih tahan terhadap fluktuasi harga komoditas global.


“Penurunan produksi ini dapat dilihat sebagai momentum korektif bagi Indonesia untuk tidak hanya mengejar kuantitas volume ekspor, tetapi juga memperkuat hilirisasi tahap lanjut, sehingga nilai keekonomian domestik lebih tahan terhadap guncangan harga komoditas global,” kata Wahyu ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (23/10/2026).

Endapan hidroksida campuran (MHP) yang tersuspensi dalam air di fasilitas pengolahan nikel yang dioperasikan Harita Nickel di Pulau Obi./Bloomberg

Dia juga memandang tekanan terhadap smelter menunjukkan ekspansi industri nikel Indonesia mulai diuji oleh kondisi keekonomian.