Logo Bloomberg Technoz

PENGHILIRAN MINERAL

Cegah Kasus Nikel di Bauksit, RI Perlu Industri Turunan Aluminium

Azura Yumna Ramadani Purnama
23 October 2026 13:50

Pekerja mengambil sampel dari wadah berisi aluminium cair di smelter aluminum Dunkerque SAS di Dunkirk, Prancis./Bloomberg-Andrey Rudakov
Pekerja mengambil sampel dari wadah berisi aluminium cair di smelter aluminum Dunkerque SAS di Dunkirk, Prancis./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menilai Indonesia perlu memperkuat industri manufaktur lanjutan yang dapat menyerap produk aluminium, agar hilirisasi bauksit tidak mengulang persoalan kelebihan pasokan yang terjadi akibat proyek hilirisasi nikel.

Ketua Dewan Penasihat Perhapi Rizal Kasli menilai pemberian izin pembangunan fasilitas pengolahan aluminium perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas produksi, kebutuhan pasar global, serta ketersediaan sumber daya dan cadangan mineral.

Dia menegaskan jika pemberian izin pabrik pemurnian bauksit dan smelter aluminium dilakukan tanpa perhitungan yang matang, penambahan kapasitas smelter justru berisiko memicu kelebihan pasokan atau oversupply yang dapat menekan harga komoditas.


“Langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan mengintensifkan pembangunan industri lanjutan sebagai bagian pemanfaatan intermediate product yang dihasilkan oleh industri manufaktur dikonversi menjadi barang jadi untuk pasar dalam negeri maupun ekspor,” kata Rizal kepada Bloomberg Technoz, Jumat (23/10/2026).

Daftar Proyek Aluminium yang Ramaikan Tren Hilirisasi Bauksit RI (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Insentif Cermat