Logo Bloomberg Technoz

Dia juga mengingatkan agar pemberian insentif kepada industri dilakukan melalui perhitungan manfaat dan biaya secara cermat. 

Rizal menilai pemerintah perlu memastikan insentif tersebut memberikan keuntungan bagi perekonomian, termasuk melalui pemanfaatan produk di dalam negeri—bukan justru menimbulkan biaya yang tidak sebanding.

Berkaitan dengan itu, Rizal menyarankan kapasitas fasilitas pengolahan yang akan dibangun perlu disesuaikan dengan prospek permintaan global agar ekspansi industri tidak justru menghasilkan kelebihan pasokan.

“Tujuan akhir dari semua proses ini adalah berkembangnya industri manufaktur di dalam negeri,” ungkap Rizal.

Sebagai informasi, Asosiasi Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) mencatat angka konsumsi aluminium nasional saat ini telah menembus sekitar 1,3 juta metrik ton per tahun, ditopang permintaan dari sektor industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan energi baru terbarukan (EBT).

Ketua Umum Galunesia Oktavianus Tarigan menjelaskan peningkatan permintaan material alumina dan aluminium di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh pergeseran strategi industri global maupun domestik yang mulai berfokus pada teknologi ramah lingkungan.

“Penyerapan terbesar berada pada sektor pengecoran logam yang menghabiskan sekitar 500.000 metrik ton. Sementara itu, kebutuhan untuk bilet ekstrusi mencapai 350.000 metrik ton,” ujarnya dalam agenda Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (9/9/2026).

Selain itu, peningkatan konsumsi didorong peningkatan aluminium rod atau batang aluminium untuk industri kabel sebanyak 300.000 metrik ton, dan sisanya sebanyak 150.000 metrik ton dialokasikan untuk produk plate sheet atau lembaran pelat.

Di sisi lain, saat ini Indonesia memiliki kapasitas fasilitas pemurnian alumina sebesar 6,3 juta metrik ton per tahun yang diolah dari pasokan sekitar 15 hingga 16 juta metrik ton bijih bauksit, sehingga mampu menghasilkan sekitar 5,3 juta metrik ton alumina per tahun.

“Namun, dari total keluaran alumina tersebut, pasokan yang masuk ke industri peleburan domestik baru berkisar antara 1,4 hingga 1,5 juta metrik ton untuk menghasilkan sekitar 600.000 metrik ton aluminium batangan [ingot] per tahun,” jelas Oktavianus.

Adapun, menyitir data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta metrik ton per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta metrik ton bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, nantinya kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta metrik ton.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta metrik ton per tahun.

Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 metrik ton (potensi 600.000 metrik ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 metrik ton (potensial 1 juta metrik ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 metrik ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 metrik ton dan potensi 1,5 juta metrik ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 metrik ton.

Adapun, beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 metrik ton (potensial 600.000 metrik ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 metrik ton (potensial 250.000 metrik ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 metrik ton.

Sebagai catatan, hilirisasi bauksit tercatat menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi kuartal III-2026 dengan besaran Rp61,9 triliun, lebih tinggi dari investasi hilirisasi nikel senilai Rp48 triliun.

Secara kumulatif, sepanjang Januari—September 2026 hilirisasi nikel masih menjadi penopang investasi hilirisasi hingga kuartal III-2026 yakni sebesar Rp118,9 triliun.

Posisi kedua ditempati bauksit dengan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp115,7 triliun. Ketiga, hilirisasi besi baja dengan realisasi investasi Rp40,8 triliun.

Kemudian, hilirisasi tembaga dengan realisasi investasi sebesar Rp39,5 triliun, hilirisasi pasir silika dengan realisasi Rp7 triliun, dan hilirisasi komoditas mineral lainnya dengan realisasi Rp13,2 triliun.

(azr/wdh)

No more pages