Hal ini terlihat pada angka probabilitas ekspektasi pasar yang turun ke sekitar 19,4% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan Oktober, dari sebelumnya 70% setelah beberapa hari usai keputusan September.
Kondisi eksternal itu membuat rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) cenderung defensif dengan pelemahan terbatas 0,04% Rp17.920/US$ pada 07:08 WIB.
Pelemahan rupiah dipicu oleh kenaikan indeks dolar AS yang menguat 0,4% ke 102,24, serta kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun sebesar 0,4 basis poin (bps) ke 5,28%.
Pelemahan yang relatif terbatas itu juga tertopang oleh data ekonomi AS yang memperkirakan langkah hawkish tidak sebulat sebelumnya, serta posisi harga minyak Brent yang terpangkas 0,38% jadi US$100,2/barel.
Serupa dengan mata uang Asia pagi ini, sebagian berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau. Yen Jepang menguat 0,12%, won Korea Selatan 0,11%, dolar Singapura 0,04%, yuan offshore 0,02%, dan yuan China 0,01%.
Sementara dari pasar obligasi, ekspektasi inflasi akibat harga minyak bertahan tinggi lebih lama, masih menekan yield. Yield US Treasury yang naik 0,4 bps jadi 5,28% diikuti oleh kenaikan yield di pasar obligasi global.
Yield obligasi Inggris naik 6,8 bps jadi 5,44%, Italia naik 9,7 bps ke 4,62%, Prancis bahkan naik lebih tajam 11,8 bps ke 4,86%.
Meski begitu, di pasar Asia pergerakan obligasi masih relatif stabil. Yield obligasi Indonesia berdenominasi dolar AS bahkan turun 1,4 bps ke 6,24%. Obligasi Thailand stagnan di 2,34%, China stabil di 1,67%, dan Korea Selatan stagnan di 4,38%.
Dari dalam negeri, data cadangan devisa yang hanya berkurang tipis dan berada di US$146,3 miliar per akhir September memberi jangkar stabilitas bagi pergerakan rupiah. Hal ini menunjukkan intervensi Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter cukup efektif dalam menjaga rupiah tanpa banyak menguras cadangan devisa.
Hari ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang akan menjadi indikator kondisi konsumsi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi domestik. Pergerakan IKK akan memberi gambaran mengenai seberapa kuat optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospeknya ke depan.
Meski begitu, pelaku pasar sepertinya tak hanya melihat angka agregatnya, tetapi juga kualitas dari keyakinan konsumen yang tergambar pada masing-masing kelompok pengeluaran. Sebab, IKK yang tinggi secara agregat belum tentu mengindikasikan konsumsi akan tumbuh kuat, jika rumah tangga masih menahan belanja akibat tekanan harga, ketidakpastian pendapatan, atau meningkatnya kebutuhan untuk menabung.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada perdagangan hari ini. Target penguatan menuju Rp17.850/US$ sampai dengan Rp17.800/US$. Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap ke Rp17.700/US$ dengan tertembusnya resistance kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun rupiah mulai membentuk tren rebound, dengan lower high-lower low yang apabila menembus trendline channel kuatnya lagi maka berpotensi lanjut menguat hingga Rp17.500US$.
Namun apabila rupiah justru memberikan tanda-tanda melemah, maka support terdekat dapat menuju Rp17.950/US$. Sementara rentang gerak rupiah dalam support nantinya di antara Rp18.000/US$ sampai dengan Rp18.100/US$.
(riset/aji)


























