Adapun, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ikut memberikan pinjaman jangka panjang sebesar US$56,66 juta.
Bagian utang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini sekitar US$34,65 juta. Dengan demikian, total bagian jangka panjang setelah dikurangi porsi jangka pendek itu menjadi US$348,18 juta.
Mayoritas pinjaman itu disalurkan untuk pengembangan proyek tambang emas dan tembaga di Palu dan Gorontalo, garapan anak usaha perseroan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).
Selain itu, pinjaman jangka panjang itu juga diarahkan untuk pengembangan proyek tambang emas dan tembaga di Mt Carlton, garapan Wolfram.
Di sisi lain, pinjaman dari BBNI belakangan disalurkan untuk mendukung operasional anak usaha bisnis batu bara BUMI, Arutmin.
Sementara itu, total bagian jangka panjang utang obligasi BUMI mencapai US$201,79 juta per Juni 2026. Utang obligasi itu naik sekitar dua kali lipat dari posisi utang obligasi yang berakhir Desember 2025 sebesar US$106,09 juta.
Adapun, utang obligasi yang menjadi bagian jangka pendek perseroan sebesar US$35,81 juta.
Secara keseluruhan, total liabilitas BUMI sampai pertengahan tahun ini mencapai US$1,64 miliar, naik 23,41% dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2025 sebesar US$1,33 miliar.
Kendati demikian, jumlah aset BUMI per Juni 2026 relatif tidak banyak bergerak dari posisi akhir 2025. Jumlah aset BUMI pertengahan tahun ini sebesar US$4,59 miliar, naik 8,88% dari posisi akhir 2025 sebesar US$4,21 miliar.
Di sisi lain, ekuitas bersih BUMI mencapai US$2,95 miliar sampai akhir Juni 2026 dengan kas dan setara kas US$179,68 juta.
Terganjal BRMS
Sebelumnya, BUMI membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$35 juta pada kuartal II-2026. Angka tersebut naik dari US$24 juta pada kuartal sebelumnya maupun US$3 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Dengan demikian, laba bersih sepanjang semester I-2026 melonjak hampir tiga kali lipat menjadi US$59 juta, dibandingkan US$20 juta pada semester I-2025.
Meski demikian, kinerja BUMI pada kuartal II-2026 sebenarnya tertahan oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto menjelaskan, hingga level profit before minority interest atau laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk, laba BUMI turun dibandingkan kuartal sebelumnya karena perseroan masih mengonsolidasikan BRMS, meski kepemilikan efektifnya di perusahaan tambang emas tersebut tinggal sekitar 20% per Juni 2026.
BRMS sendiri membukukan rugi bersih US$5 juta pada kuartal II 2026, berbalik dari laba bersih US$18 juta pada kuartal sebelumnya. Alhasil, laba bersih semester I-2026 turun 44% menjadi US$12,9 juta.
Pelemahan tersebut dipicu turunnya volume penjualan emas menjadi 6.301 ounce, seiring proses pushback di tambang PT Citra Palu Minerals yang menekan kadar bijih serta lemahnya penyerapan pasar domestik.
"Pelemahan pada level profit before minority interest lebih dipengaruhi dampak konsolidasi BRMS. Sementara itu, jika melihat bisnis intinya, kinerja segmen batu bara BUMI masih tetap solid pada kuartal II 2026," kata Everson dalam risetnya, dikutip Senin (3/8/2026).
Hal itu tercermin dari pendapatan segmen batu bara yang tumbuh 19% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 52% secara tahunan. Kontribusi dari perusahaan patungan PT Kaltim Prima Coal (KPC) juga melonjak 80% dibandingkan kuartal I-2026 dan 410% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebaliknya, pendapatan segmen emas turun 56% dibandingkan kuartal sebelumnya dan 48% secara tahunan. Sekitar 90% pendapatan segmen emas BUMI berasal dari BRMS, sehingga pelemahan kinerja emiten tambang emas tersebut ikut membebani laporan keuangan konsolidasian perseroan.
(naw)





























