Logo Bloomberg Technoz

“Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan tekanan permintaan domestik masih berada pada level yang cukup terjaga. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya memerlukan respons berupa kenaikan suku bunga tambahan,” katanya.

Meski demikian, Yusuf menilai bahwa BI juga perlu tetap fleksibel menghadapi perkembangan global, khususnya apabila terjadi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed, peningkatan tekanan inflasi inti, atau perubahan arus modal yang berpotensi menekan nilai tukar.

Ia mengatakan bahwa arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan pergerakan nilai tukar rupiahjuga  masih harus menjadi pertimbangan utama yang harus diwaspadai terkait dengan kebijakan suku bunga.

Ia memperkirakan, jika ada kenaikan lanjutan, BI Rate kemungkinan akan berada di sekitar 6,00% pada akhir tahun, dengan rentang wajar 5,75% hingga 6,25%.

“Skenario dasar saya tetap 6,00% karena BI sudah menaikkan suku bunga 100 bps pada Mei–Juni, sehingga tidak perlu terlalu agresif merespons kenaikan The Fed berikutnya,” katanya.

Sementara itu, kenaikan ke 6,25% baru menjadi lebih mungkin jika tekanan eksternal meningkat, misalnya dolar AS kembali menguat, harga minyak naik, atau pelemahan rupiah mulai mendorong inflasi inti.

Sebaliknya, BI juga masih berpeluang mempertahankan suku bunga di 5,75% hingga akhir tahun apabila The Fed menahan suku bunga, harga komoditas stabil, dan inflasi tetap terkendali.

(ell)

No more pages