Sebelumnya, TLKM membidik margin EBITDA di atas 50% pada 2026, dengan manajemen menyebut margin pada kuartal II telah mendekati level tersebut.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko TLKM Indonesia Arthur Angelo Sailendra mengatakan margin EBITDA konsolidasi Telkom pada semester I 2026 tercatat 49,4%, sedikit di bawah panduan Perseroan yang berada di atas 50%.
"Namun, kami melihat perkembangan yang positif pada kuartal kedua, di mana margin EBITDA telah meningkat hingga di atas 50%," kata Arthur dalam Public Expose Live 2026 Telkom Indonesia, Senin (7/9/2026).
Manajemen menyatakan tetap mempertahankan panduan kinerja Perseroan untuk 2026. Pertumbuhan pendapatan normalized revenue ditargetkan berada di kisaran 1%-3%, sementara rasio belanja modal (CapEx) terhadap pendapatan dipertahankan sekitar 17%-19%.
Arthur mengatakan Telkom akan terus menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mendukung pencapaian target sepanjang 2026.
Pada semester I 2026, pendapatan konsolidasi Telkom tumbuh 3,9% secara tahunan menjadi Rp75,9 triliun. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh perbaikan monetisasi bisnis seluler serta pertumbuhan sejumlah bisnis infrastruktur.
Telkomsel menjadi kontributor utama dengan pendapatan tumbuh 3,3% menjadi Rp55,6 triliun. Perbaikan monetisasi dan disiplin biaya juga mendorong EBITDA Telkomsel tumbuh 8,6%, dengan margin meningkat 230 basis poin menjadi 46,9%.
Sementara itu, rasio CapEx terhadap pendapatan Telkom pada semester I tercatat 14,2%. Manajemen memperkirakan belanja modal akan meningkat pada semester II, termasuk untuk investasi spektrum, namun tetap mempertahankan panduan rasio CapEx terhadap pendapatan sebesar 17%-19% untuk setahun penuh.
"Kami tetap disiplin dalam mengeksekusi investasi dan mencermati berbagai risiko eksternal, termasuk dinamika geopolitik yang dapat mempengaruhi biaya input. Secara keseluruhan, kami tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai sasaran 2026," ujar Arthur.
(naw)





























