Sedangkan BoJ hari ini memutuskan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 1,25%. Meski inflasi Jepang secara tahunan tetap 1,9%, di bawah proyeksi ekonom 2%.
Sejauh ini hanya BoE dari Inggris yang mempertahankan suku bunga acuan. Namun itu pun tidak bulat, karena tiga dari sembilan anggota Komite Kebijakan Moneter memilih untuk menaikkan suku bunga acuan 25 bps ke 4%.
Inflasi Inggris diperkirakan dapat mencapai sekitar 4% pada awal tahun depan. Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan bahwa kemungkinan kebijakan moneter harus diperketat lantaran kondisi geopolitik masih berpotensi menimbulkan risiko kenaikan inflasi dan dampak lanjutan (second-round effects) dari inflasi dapat muncul lebih kuat.
Bank sentral utama memang mengambil langkah berbeda, tapi keempatnya sama-sama menghadapi tekanan harga yang dipengaruhi oleh kenaikan biaya energi, konflik geopolitik, dan risiko inflasi yang lebih persisten.
Proyeksi BI Rate
Kala The Fed, ECB, dan BoJ mengerek suku bunga, ruang mempertahankan suku bunga acuan masih terbuka bagi Indonesia. Bank Indonesia (BI) diproyeksi masih dapat mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75% pada pertemuan 22-23 September pekan depan.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson mengatakan, kenaikan suku bunga sebesar 100 bps secara kumulatif yang dilakukan pada Mei-Juni lalu dinilai sudah cukup untuk mendorong arus modal kembali masuk.
“Rupiah telah menguat terhadap dolar AS sejak akhir Juli, dan mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya, meskipun perang AS-Iran semakin intensif, harga minyak global meningkat, dan yield obligasi AS naik,” kata Henderson dalam catatannya.
Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai kenaikan suku bunga acuan di AS menandai siklus pengetatan kebijakan moneter yang lebih ketat. "Menurut kami, ada peluang BI menaikkan suku bunga mulai kuartal IV-2026," sebut Lionel.
Akan tetapi, menurutnya posisi rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.500-17.700/US$ pada akhir kuartal III-2026 setidaknya masih memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Namun pada November atau Desember, sepertinya kenaikan BI Rate sudah sulit dihindari.
Namun, ruang itu tetap memiliki batas. Jika dolar AS terus menguat dan yield US Treasury kembali naik, serta rupiah mengalami tekanan melampaui Rp17.850/US$, maka mempertahankan daya tarik aset rupiah akan menjadi prioritas BI.
Dalam kondisi tersebut, kemungkinan BI akan berhitung ulang: apakah mempertahankan suku bunga sebanding dengan risiko terhadap stabilitas nilai tukar.
Sebaliknya, jika harga minyak mentah semakin turun ke kisaran US$90/barel, sementara rupiah relatif stabil dan inflasi tetap terkendali, maka BI masih punya ruang lebih besar untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%.
Untuk diketahui, rupiah bergerak menguat pada sesi perdagangan Jumat (18/9/2026) menggenapi penguatan sepanjang kuartal III-2026 yang tercatat 0,79%.
(dsp)



























