Yen Jepang tertekan menyusul langkah hawkish The Fed mengerek suku bunga acuan ke 3,75-4%. Pelaku pasar memperkirakan yen dapat terus melemah, kecuali BoJ bisa meyakinkan pasar bahwa bank sentral Jepang akan menempuh langkah pengetatan moneter lebih lanjut.
Penguatan mata uang kawasan sebagian ditopang oleh penurunan harga minyak mentah. Brent sudah terpangkas ke US$100,24/barel (-0,64%), dan West Texas Intermediate (WTI) di kisaran US$101,15/barel (-0,76%), membuat kekhawatiran akan inflasi kembali mereda.
Namun, dolar Amerika Serikat (AS) masih terapresiasi dengan indeks terhadap enam mata uang utama masih tertahan di 100,23. Pelaku pasar mencermati arah bank sentral utama, seperti BoJ, usai The Fed menempuh langkah pengetatan dengan menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin. Berdasarkan survei Bloomberg, BoJ diperkirakan mengambil langkah sama dan menaikkan suku bunga ke 1,25%.
Langkah pengetatan itu berpotensi memengaruhi kalkulasi Bank Indonesia yang pekan depan menetapkan suku bunga acuan. Jika pergerakan rupiah relatif stabil di kisaran Rp17.750-Rp17.800/US$, maka kemungkinan BI masih memiliki ruang untuk menahan BI Rate pada pertemuan bulan ini.
Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 5,75% pada pertemuan 23 September. "Kenaikan suku bunga sebesar 100 bps yang dilakukan pada Mei-Juni dinilai sudah cukup untuk kembali mendorong arus modal masuk," kata Henderson.
Ia menambahkan, penguatan rupiah sejak akhir Juli dan mencatat kinerja lebih baik dari mata uang di kawasan memberi ruang bagi BI menahan suku bunga.
Namun ruang itu bukan tanpa risiko. BI tetap akan memperhitungkan arah kebijakan The Fed.
Pelaku pasar berekspektasi bahwa siklus pengetatan ini baru saja dimulai dan bukan menjadi langkah terakhir. Selain itu, BI juga akan memperhatiakn gerak dolar AS, arus modal asing serta ekspektasi inflasi domestik.
Terlebih, kepemilikan investor asing di obligasi pemerintah Indonesia juga tercatat mulai menyusut sebesar US$747,4 juta per Selasa (15/9/2026). Sehari kemudian, investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih di pasar saham Indonesia sebesar US$35,3 juta, dan menandakan aksi jual selama enam hari beruntun.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, sebenarnya nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah usai menembus support potensial trendline channel sebelumnyanya. Target pelemahan selanjutnya menuju level Rp17.780/US$ yang merupakan support pertama, dengan target pelemahan kedua tertahan di level Rp17.800/US$ yang merupakan level sMA-50.
Jika nantinya nilai tukar rupiah lanjut melemah, maka masih ada kemungkinan mencapai Rp17.850/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya dalam perspektif harian (daily time frame) menjadi resisten psikologis potensial di level Rp17.700/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan adalah Rp17.600/US$.
(riset/aji)





























