Warsh kembali menegaskan pesan untuk memerangi inflasi yang ia sampaikan dalam simposium Jackson Hole bulan lalu. Ia juga mengatakan bahwa terlalu banyak kategori barang dan jasa yang mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3%, dalam periode 6 dan 12 bulan.
Investor kini mempertimbangkan seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan ketika angka inflasi diperkirakan akan semakin meluas. Pelaku pasar uang memperkirakan sekitar 50% peluang kenaikan FFR pada Oktober.
Namun, harga minyak Brent kembali terpangkas 2,69% ke US$105,83/barel, menyusul tanda-tanda gangguan pasokan di Timur Tengah mulai mereda, dengan adanya pemulihan jalur pipa minyak utama.
Arab Saudi disebut sedang berupaya untuk mengembalikan sekitar setengah kapasitas pipa East-West yang rusak dalam beberapa hari, dan memulihkan operasi penuh dalam waktu enam pekan.
Harga minyak masih tercatat tinggi 75% sepanjang tahun ini. Lonjakan harga minyak mentah dan bahan bakar ini telah merembet dan meningkatkan inflasi global, termasuk di Indonesia.
Meski terpangkasnya harga minyak hari ini dapat memberi sedikit ruang penguatan bagi mata uang di Asia, kuatnya dolar AS kemungkinan akan mendorong sentimen risk-off di pasar Asia, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, pergantian menteri keuangan belum banyak memengaruhi pasar keuangan. Tekanan pada aset domestik masih berasal dari sisi eksternal. Namun begitu, pelaku pasar akan mencermati pengelolaan anggaran di bawah kepemimpinan Suahasil Nazara.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson menilai Suahasil memiliki peluang lebih besar untuk mencapai target defisit sebesar 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto, sembari memastikan program prioritas tetap mendapat pendanaan yang memadai di tahun ini.
Di tengah berbagai sentimen dan tekanan yang ada, hari ini rupiah spot diperkirakan defensif dan bergerak di rentang Rp17.650-Rp17.750/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah dibayang-bayangi potensi pelemahan, mencermati berbagai sentimen hingga wait and see pasar, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.700/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp17.750/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp17.800/US$ sebagai support terkuatnya.
Jika rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati pada level di range Rp17.650/US$ dan selanjutnya Rp17.600/US$.
Adapun rupiah sejatinya masih ada potensi penguatan optimistis lanjutan seiring sentimen pasar dalam negeri yang mulai membaik ke resistance potensialnya ke level Rp17.500/US$ biarpun saat ini masih terbatas peluangnya.
(riset)





























