Selain itu, Dwi Mudriah, Direktur Supply Chain Beiersdorf Indonesia, juga berbagi pengalamannya bekerja selama 16 tahun di supply chain dan mengatakan bahwa tidak mudah untuk mencapai apa yang ia dapatkan sekarang. Berbagai tantangan sudah dia hadapi, salah satunya adalah harus berpindah-pindah negara dan jauh dari rumah.
Namun, yang terpenting bagi dia adalah bagaimana kita sebagai perempuan bisa memberikan yang terbaik dan menjadikannya sebuah warisan untuk generasi selanjutnya.
“Saya tidak berpikir apa tantangan terbesar, paling penting how you can make sure we do our best and give legacy to our generation. Dan kita pingin orang lain behave seperti itu. Dan satu lagi tidak ada male domination dan female domination, we just do itu,” ungkap Dwi.
Mendengar cerita keduanya, panelis lain yang merupakan seorang penulis, Okky Madasari, mengutarakan alasan dirinya menulis untuk creating impact (menghasilkan perubahan).
“Perempuan tidak hanya jadi konco winking, dicetak terus untuk membuat impact itu,” katanya.
Ia juga berbicara soal tantangan yang dihadapi sebagai perempuan yang berani bersuara terkait dominasi laki-laki.
“Itu risiko seorang perempuan berani bersuara soal male domination. Apa yang disampaikan ibu ari dan Dwi: male domination masih fakta. Di BUMN, perempuan C-level, perusahaan Tbk, untuk mencapai posisi C-level tidak sampai 8%. Jurnalis perempuan siapa yang bertahan? Banyak perempuan di luar sana banyak yang hamil resogn, tantangan struktural, harus sama- kita robohkan,” ungkapnya.
“Bahwa tapi kita bisa, kita tidak ingin perempuan sekadar jadi hiasan, angkat satu direktur perempuan agar terlihat sesama gender, perempuan bisa naik karena pendidikan, keahlian, ini harus kita runtuhkan, ada autokritik pada perempuan sendiri, sampai hari ini tidak bisa sampai 30% kuota. Ada bapaknya, karena kemampuan? Atau koneksi? Kita harus menggarisbawahi bahwa seiring dengan skill dan pengetahuan yang dimiliki, perempuan bisa melakukan apa pun. Kesetaraan gender masih jauh? Banyak perempuan hebat bisa mendobrak,” tambahnya.
Ketiga perempuan hebat ini juga memberikan tips untuk mengatasi stres atau burnout dalam pekerjaan.
Menurut Arini, untuk mengatasi burnout, dirinya akan beristirahat dan meminta pengertian kantornya agar tidak membuatnya memilih antara pekerjaan dan keluarga. Karena menurutnya, pilihan itu akan membuatnya cepat stres.
“Aku sudah berbicara dengan bosku bahwa jika terjadi sesuatu yang buruk dengan keluargaku, itu tidak bisa diganggu gugat, karena ketika harus memilih, bisa membuat burnout. Work-life balance itu penting, terutama bersama keluarga sebagai support system,” katanya.
Sedangkan Dwi mengatakan semua itu bisa teratasi dengan adanya solidaritas tinggi dan menciptakan ekosistem yang baik di perusahaan untuk meminimalkan terjadinya burnout.
(spt)






























