Yuana Sutyowati: 60% Lebih Pelaku UMKM Indonesia Adalah Perempuan

Bloomberg Technoz, Jakarta - Perempuan memiliki peran penting dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk dalam membangun ekosistem ekonomi berbasis komoditas seperti kopi. Pengalaman hampir empat dekade Yuana Sutyowati dalam pemberdayaan UMKM memperlihatkan bagaimana kontribusi perempuan menjadi bagian dari dinamika sektor tersebut.
Hal itu disampaikan Chief Executive Officer (CEO) COOP Coffee Foundation Yuana Sutyowati dalam sesi panel “Different Paths, One Purpose: Women Leading Change Across Industries” pada Women On The Move 2026 yang diselenggarakan Bloomberg Technoz.
Yuana mengatakan perjalanannya selama hampir 38 tahun di pemerintahan membuatnya bersentuhan langsung dengan berbagai kelompok UMKM di Indonesia, termasuk pelaku usaha perempuan.
“Selama hampir 38 tahun itu saya mendampingi mereka dengan berbagai program, dari hulu sampai hilir,” ujar Yuana.
Menurut Yuana, keterlibatan perempuan dalam UMKM merupakan salah satu aspek yang tidak dapat dilepaskan dari struktur pelaku usaha di Indonesia. Ia mengatakan mayoritas pelaku UMKM yang ditemuinya tersebar di berbagai daerah, dengan perempuan menjadi bagian besar dari kelompok tersebut.
“Karena ada 64 sekian juta pelaku UMKM sampai saat ini ter-update, mungkin sudah naik, yang menyebar dari Sabang sampai Merauke, dan itu hampir 60 sekian persen itu women,” kata Yuana.
Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dilihat dari sisi peningkatan kapasitas individu. Perempuan juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang memiliki keterhubungan dengan pembiayaan, produksi, pemasaran, hingga akses pasar.
Selama menjalankan tugas di Kementerian Koperasi dan UMKM, Yuana terlibat dalam berbagai program yang menyentuh pelaku usaha dari sisi pembiayaan hingga pengembangan usaha. Ia juga pernah memimpin Smesco Indonesia, yang berperan dalam pengembangan pemasaran dan promosi produk UMKM.
“Saya memang mantan lurah Smesco, tapi selebihnya juga pemberdayaan UMKM dari sudut financing, pembiayaan, kemudian juga di hulu membina UMKM dan koperasi,” ujarnya.
Pengalaman tersebut kemudian dibawa Yuana ketika menjalankan perannya di COOP Coffee Foundation. Ia melihat misi pemberdayaan petani kopi memiliki kesinambungan dengan pekerjaan yang telah dijalankannya selama berada di pemerintahan.
“Setelah nyemplung di yayasan, karena kopi itu adalah NGO, non-government organization sebagai yayasan, yang misinya memang inline sebetulnya, itu pemberdayaan,” tutur Yuana.
Dalam konteks industri kopi, pemberdayaan juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat di tingkat akar rumput untuk memperoleh nilai ekonomi dari komoditas yang mereka produksi. Menurut Yuana, penguatan tersebut perlu dilakukan dari hulu dengan memperhatikan kualitas dan kebutuhan pasar.
“Karena kopi dan mungkin komoditi lain ya, ada coklat, ada teh, ini persoalan itu sebenarnya sama. Jadi dalam hal kualitas dan lain-lain, dan ini kan market driven,” katanya.
Yuana juga menilai perempuan memiliki posisi penting dalam pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Pengalaman mendampingi UMKM membuatnya melihat bahwa kontribusi perempuan tidak berhenti pada aktivitas usaha, tetapi juga berkaitan dengan keberlanjutan keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Bagi Yuana, kepemimpinan perempuan juga tidak selalu harus diwujudkan melalui posisi formal. Peran tersebut dapat hadir melalui kemampuan memberdayakan, membangun kapasitas, dan menciptakan perubahan di lingkungan masing-masing.
Pandangan tersebut sejalan dengan tema Women On The Move 2026 yang mengangkat leadership, collaboration, sustainability, dan women empowerment. Forum tersebut mempertemukan perempuan dari pemerintahan, dunia usaha, profesional, dan komunitas untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan serta kontribusi mereka di berbagai sektor.
Dalam perjalanan profesionalnya sendiri, Yuana melihat karier bukan sesuatu yang selalu dapat dirancang secara linear. Ia menyebut perjalanan yang dijalaninya lebih banyak terbentuk dari kesempatan dan panggilan untuk terus memberikan kontribusi.
“Manusia itu kan sebetulnya perjalanannya ada yang menonton. Saya merasa sebetulnya perjalanan hidup kita itu tidak by design. Jujur, ini tidak ada yang by design pribadi,” ujar Yuana.
“Mungkin ini adalah panggilan,” lanjutnya.
































