"Kami berpendapat bahwa penurunan pendapatan bunga ini tidak berdampak material terhadap perseroan."
Fundamental Tertekan
Harga saham KLBF sedang dalam tren bearish. Sejak awal tahun, harganya sudah terpangkas hingga 36,51%.
Dari sisi fundamental, KLBF juga tengah menghadapi tantangan. Bahkan, perusahaan membuka opsi untuk menahan ekspansi yang berujung pada revisi belanja modal atau capital expenditure (capex).
Chief Financial Officer (CFO) & Direktur Keuangan Kalbe Farma Kartika Setiabudi mengatakan, perusahaan sebelumnya mengalokasikan sekitar Rp1 triliun untuk capex tahun ini. Namun, Kalbe kini mengkaji ulang sejumlah proyek yang telah direncanakan.
“Untuk tahun ini pada awalnya kami merencanakan alokasi sekitar Rp1 triliun. Tapi memang kami melakukan beberapa review atas proyek-proyek yang sedang kami jalankan,” kata Kartika, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, kondisi geopolitik global telah menimbulkan gejolak pada rantai pasok. Kartika menyebut, gejolak paling dirasakan pada sejumlah bahan baku, bahan kemasan, dan kebutuhan produksi lainnya. Sehingga, kondisi tersebut membuat modal kerja menjadi salah satu prioritas perseroan.
“Tahun ini di kondisi geopolitik memang ada gejolak secara global supply chain terhadap beberapa bahan baku kemasan dan juga bahan baku. Sehingga ini menjadi fokus utama kami bagaimana tahun ini secara modal kerja itu memang merupakan prioritas utama,” lanjutnya.
KLBF, kata Kartika, akan meninjau kembali sejumlah rencana capex, tetapi dengan tetap menjaga investasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
“Untuk capex tentunya kita akan review kembali dan beberapa capex yang kami siapkan tahun ini adalah untuk penambahan kapasitas baik itu di sektor pharma dan juga di nutrisi,” sebutnya.
Dia menegaskan perseroan tetap akan mengalokasikan investasi untuk kebutuhan pertumbuhan, baik pada bisnis farmasi, nutrisi maupun lini usaha lainnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah masih menjadi tantangan bagi kinerja Kalbe karena biaya produksi perseroan dipengaruhi oleh penggunaan bahan baku impor. Kondisi tersebut turut memberi tekanan terhadap laba kotor atau gross profit.
“Pelemahan rupiah ini tentunya berdampak cukup besar terhadap laba kotor atau gross profit kami. Karena biaya produksi sangat dipengaruhi dengan bahan baku impor. Sehingga kelemahan rupiah ini merupakan suatu tantangan untuk Kalbe,” ungkapnya.
Meski rupiah belakangan mulai menguat, Kartika menyatakan, tekanan terhadap margin masih akan berlanjut. Dampak persediaan atau inventory membuat perseroan belum melihat adanya perbaikan margin yang signifikan sepanjang tahun ini.
“Mungkin sepanjang tahun ini kami belum melihat adanya perbaikan margin secara signifikan,” ujarnya.
(red)




























