Logo Bloomberg Technoz

Lonjakan biaya hingga lebih dari dua kali lipat ini mengancam reputasi LNG sebagai sumber energi yang andal, terutama karena kejadian ini berlangsung hanya beberapa tahun setelah perang lain—antara Rusia dan Ukraina—juga memicu kelangkaan dan lonjakan harga. 

Inti masalahnya adalah negara-negara tersebut membutuhkan gas saat ini, karena mereka tidak dapat mengubah bauran energi mereka secara cepat tanpa risiko pemadaman listrik.

Harga LNG di Asia Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Akhir 2022. (Bloomberg)

Namun, dalam jangka panjang, banyak dari negara tersebut kini mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada LNG. Energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin, batu bara, nuklir, serta gas produksi lokal atau pasokan melalui pipa merupakan beberapa pilihan yang tersedia.

"Jika harga tetap di tingkat seperti ini, kami berpendapat LNG akan kesulitan bersaing dengan bahan bakar alternatif," ujar Fabian Kor, Wakil Presiden Eksekutif untuk Asia di SEFE Marketing & Trading Ltd, perusahaan pembeli LNG asal Jerman, dalam konferensi di Singapura pekan lalu.

Yang dipertaruhkan adalah investasi senilai miliaran dolar pada sektor yang, hingga tahun ini, merupakan bahan bakar fosil dengan pertumbuhan tercepat yang memegang peran penting sebagai jembatan transisi dari batu bara yang lebih polutif menuju energi terbarukan.

Shell Plc, salah satu produsen utama, mengatakan dalam laporan pada Agustus bahwa mereka memperkirakan permintaan LNG akan meningkat sebesar 65% pada 2050, terutama didorong oleh kawasan Asia Selatan dan Tenggara.

Apakah target tersebut masih realistis akan dibahas dalam ajang Gastech—konferensi industri LNG terbesar di dunia—yang berlangsung di Bangkok pekan ini.

Thailand, selaku tuan rumah tahun ini, baru saja merilis rencana energi jangka panjang yang menetapkan target agar setidaknya 65% kebutuhan listriknya dipenuhi dari sumber energi terbarukan pada 2050; langkah ini sebagian akan berdampak pada pengurangan porsi gas alam.

Tenaga surya kini menjadi pilihan yang menarik bagi sejumlah negara berkembang di Asia, terutama karena biaya baterai telah turun lebih dari 30% selama empat tahun terakhir.

Pakistan, yang pernah dipandang sebagai pasar LNG dengan pertumbuhan tinggi, kemungkinan akan meningkatkan pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga air mengingat dampak langsung dari gangguan di Selat Hormuz, kata Akshay Modi, analis BloombergNEF.

Sementara itu, Bangladesh—yang telah menghabiskan lebih dari US$2 miliar untuk mengganti pasokan LNG dari Qatar yang sempat terhenti—sedang meluncurkan insentif bagi konsumen untuk memasang panel surya.

Balik ke Batu Bara

Bagi Vietnam dan Filipina, hal ini bisa jadi berarti kembali mengandalkan batu bara, menurut Modi dari BNEF. Konsumsi bahan bakar fosil paling kotor ini diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi tahun ini, didorong oleh harga gas yang tinggi dan fenomena El Niño kuat yang meningkatkan penggunaan pendingin ruangan (AC), menurut Badan Energi Internasional (IEA).

Konflik di Timur Tengah juga memaksa berbagai negara mencari produsen alternatif selain Qatar, yang sebelumnya memasok sekitar 20% kebutuhan bahan bakar cair bersuhu sangat rendah (super-chilled) tersebut.

Sekitar 80% pembeli LNG diperkirakan akan mengubah strategi pengadaan mereka dan memprioritaskan diversifikasi geografis dalam beberapa tahun ke depan, menurut survei McKinsey & Co.

Hal ini dapat meningkatkan daya tarik proyek-proyek yang memiliki akses langsung ke pasar Asia. TotalEnergies SE dan Exxon Mobil Corp sedang berupaya memajukan proyek Papua LNG di Papua Nugini, dengan keputusan investasi akhir dijadwalkan pada akhir tahun ini. AS dan Kanada juga mungkin akan diuntungkan oleh situasi ini.

Selama bertahun-tahun, harga tinggi telah menghambat adopsi LNG. Sekitar 47 rencana pembangkit listrik berbahan bakar gas—dengan total nilai US$52 miliar—telah dibatalkan, ditarik, atau tidak menunjukkan kemajuan dalam lima tahun terakhir di negara-negara seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam, menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA).

"Jika kita melihat kembali perkiraan industri sepuluh tahun lalu, mereka mengatakan bahwa LNG untuk pembangkit listrik akan menjadi sumber utama pertumbuhan permintaan," kata Sam Reynolds, kepala penelitian LNG dan gas di Asia untuk IEEFA.

"Satu konflik geopolitik merupakan hal yang sangat negatif. Konflik geopolitik kedua menandakan adanya sebuah pola. Dan pada dasarnya, hal inilah yang mulai disadari oleh negara-negara di Asia."

(bbn)

No more pages