Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap penurunan daya listrik yang dihasilkan untuk mendukung proses produksi perusahaan.
Jika hal ini terjadi, Inalum akan berkoordinasi dengan PLN untuk memperoleh pasokan listrik tambahan salah satunya melalui PLTA Asahan 3 sebagai cadangan pasokan energi.
“Jadi in case water level turun pada level tertentu, kita cukup koordinasi dengan PLN untuk bisa dapat suplai tambahan. Ada PLTA Asahan 3, jadi sumber memang masih PLTA,” ungkapnya.
Untuk diketahui, berdasarkan data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena iklim El Niño menjadi pemicu utama menurunnya debit air Danau Toba akibat penurunan curah hujan yang signifikan di wilayah Daerah Tangkapan Air (DTA).
Minimnya pasokan air hujan membuat volume air masukan (inflow) dari ratusan anak sungai yang mengalir ke danau menyusut drastis.
Selain faktor cuaca ekstrem, penyusutan ini diperparah oleh kerusakan vegetasi dan alih fungsi lahan di kawasan tangkapan air Danau Toba yang mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
Dampak penurunan debit air ini sangat terasa pada aliran Sungai Asahan, yang merupakan tunggal outlet atau pintu keluar air dari Danau Toba.
BMKG melaporkan TMA Danau Toba saat musim kemarau dan efek El Niño berada di sekitar ±903,00 mdpl.
Angka ini menunjukkan penurunan hingga 1,5 sampai 2,5 meter dari level alami atau ambang batas ideal operasi yang biasanya berkisar antara 904,5 hingga 905,00 mdpl.
Karena angka tersebut berada di bawah pola operasi normal dan mendekati ambang kritis (level minimum operasi PLTA di sekitar 902,4 mdpl), BMKG bekerja sama dengan PJT I dan PT Inalum untuk menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan guna menjaga ketahanan air.
Adapun, Inalum menggunakan PLTA Sigura-gura (pembangkit listrik bawah tanah pertama di Indonesia) dan PLTA Tangga sebagai fondasi utama dalam mengoperasikan pabrik peleburan (smelter) aluminium di Kuala Tanjung.
Listrik yang dihasilkan oleh PLTA milik Inalum disalurkan melalui jaringan transmisi bertegangan tinggi sepanjang kurang lebih 120 kilometer menuju smelter di Kuala Tanjung untuk menjaga tungku peleburan tetap beroperasi 24 jam nonstop.
Sumber air utama untuk menggerakkan PLTA ini berasal dari Danau Toba yang mengalir melalui Sungai Asahan.
Pasokan air dari Danau Toba diatur secara sistematis melalui tiga bendungan utama yang dikelola oleh perusahaan, yaitu Bendungan Pengatur di Siruar, Bendungan Penadah Air Sigura-gura, dan Bendungan Penadah Air Tangga.
(smr/wdh)































