IEA merevisi turun proyeksi dasarnya untuk pengolahan minyak Rusia selama 18 bulan ke depan menjadi sekitar 4 juta barel per hari, turun 30% dari tingkat sebelum invasi ke Ukraina.
"Masih ada risiko bahwa penilaian yang lebih hati-hati ini mungkin belum sepenuhnya menggambarkan masalah yang dihadapi kompleks penyulingan minyak Rusia," bunyi laporan tersebut.
"Waktu tunggu yang lebih lama untuk mendapatkan suku cadang pengganti dan mendekatnya cuaca yang lebih dingin dapat memperparah tekanan yang dialami sistem Rusia."
Pemerintah Rusia telah memberlakukan larangan sementara ekspor sebagian besar solar, bensin, dan bahan bakar jet untuk memperkuat pasokan dalam negeri. Namun, beberapa wilayah tetap harus menerapkan pembatasan (jatah) bahan bakar.
Sejak akhir Agustus, Rusia telah meningkatkan frekuensi serangan udaranya terhadap Ukraina, khususnya ibu kota Kyiv, dengan menggunakan drone bertenaga jet yang lebih sulit dicegat. Strategi ini telah meningkatkan risiko jatuhnya korban sipil.
Kemampuan militer Ukraina terus meningkat, termasuk efektivitas serangan terhadap kilang minyak Rusia, menurut IEA.
"Pasukan Ukraina melancarkan serangan drone dalam beberapa gelombang terhadap satu lokasi sasaran, sehingga melumpuhkan kapasitas jaring pelindung dan pertahanan udara," sebut laporan itu. "Penentuan target juga tampak lebih presisi."
Drone kini menyerang unit pengolahan sekunder di kilang-kilang Rusia, yang menurut perkiraan IEA mungkin membutuhkan waktu enam hingga delapan bulan untuk diganti.
Sanksi internasional terhadap industri energi Rusia membatasi akses mereka terhadap peralatan pengganti, sehingga semakin mempersulit proses perbaikan.
IEA juga telah menurunkan perkiraan pasokan minyak mentah Rusia untuk tahun 2026 sebesar 125.000 barel per hari menjadi 8,7 juta barel per hari di tengah penurunan kapasitas pengolahan kilang.
(bbn)






























