Logo Bloomberg Technoz

Sebenarnya, aksi jual ini tak cuma melanda pasar surat utang Indonesia. Di kawasan, obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 6,9 bps ke 2,97%, lalu obligasi Singapura di tenor yang sama juga naik 6,1 bps ke 2,42%. Bahkan, Korea Selatan naik cukup tinggi 10 bps ke 4,54%.

Kekhawatiran pelaku pasar dipicu oleh ekspektasi inflasi dan adanya kenaikan suku bunga acuan The Fed yang tercermin pada kenaikan yield obligasi AS 10 tahun yang sempat menyentuh 4,84%, posisi tertinggi sejak Oktober 2023. 

Perubahan yield yang terjadi di pasar surat utang Indonesia hampir serempak di semua tenor, bukan hanya surat utang jangka panjang. Kondisi ini mengindikasikan pelaku pasar sedang melakukan repricing terhadap arah suku bunga secara keseluruhan. 

Namun begitu, arah suku bunga AS, Fed Fund Rate (FFR), masih bergantung pada capaian inflasi versi indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis nanti malam waktu Indonesia. 

Bloomberg Economics memperkirakan, tekanan pada CPI relatif lebih terkendali, sehingga memberi ruang bagi The Fed menahan suku bunga pada posisi saat ini. 

Senada, menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede, meski indeks harga produsen (PPI) AS naik 0,4% pada Agustus, kenaikan itu tidak seluruhnya diteruskan kepada konsumen. 

"Jika inflasi inti konsumen benar-benar turun menuju 2,4% sementara pasar tenaga kerja tidak kembali terkontraksi, maka bank sentral AS mempunyai alasan cukup kuat untuk menunggu," sebut Josua. 

Untuk diketahui, berdasarkan CME Fed Watch, sekitar 69,6% pelaku pasar memperkirakan suku bunga AS akan naik pada pertemuan 16 September mendatang, sedangkan sisanya memperkirakan The Fed masih punya ruang cukup untuk mempertahankan FFR. 

Dalam skenario itu, BI mungkin akan tetap berhati-hati, bahkan ketika perekonomian domestik masih membutuhkan stimulus. 

(dsp/aji)

No more pages