Logo Bloomberg Technoz

Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Jumat (11/9/2026).

  1. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengurangi 13,11 poin
  2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengurangi 11,09 poin
  3. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengurangi 7,33 poin
  4. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengurangi 4,1 poin
  5. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengurangi 3,74 poin

Pada perdagangan siang hari ini, Bursa Saham Asia bagai ‘lautan merah’, NIKKEI 225 (Jepang), KOSDAQ (Korea Selatan), KOSPI (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), Shenzhen Comp. (China), Shanghai Composite (China), KLCI (Malaysia), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), PSEI (Filipina), CSI 300 (China), SETI (Thailand), TOPIX (Jepang), SENSEX (India), Hang Seng (Hong Kong), dan Straits Times (Singapura), kompak terjerembab amat dalam di zona merah.

Jatuhnya IHSG dan Bursa asia tersengat sentimen yang datang dari lonjakan harga minyak dunia yang memicu aksi jual di pasar global, sementara data inflasi terbaru memperkuat spekulasi Bank Sentral Amerika Serikat (AS) (Federal Reserve/The Fed) akan segera menaikkan suku bunga acuan.

Minyak mentah Brent melonjak hingga berada di atas US$108 per barel berdasarkan data Bloomberg dilihat per Jumat (11/9/2026), mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun.

Terlebih lagi, melansir Bloomberg News, laporan inflasi produsen yang lebih tinggi dari estimasi pasar juga mendorong peningkatan probabilitas taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan minggu depan.

Indeks Harga Produsen (IHP) AS menguat 0,4% pada Agustus dibanding bulan sebelumnya, menjadi kenaikan terbesar sejak Mei yang lalu. Pasar keuangan over-the-counter saat ini memprediksi peluang sebesar 70% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga minggu depan dan sepenuhnya memperhitungkan kenaikan pada Oktober. 

Lonjakan harga minyak menambah persoalan bagi Bank Sentral AS imbas konflik di Selat Hormuz mengancam harga energi di level tertinggi bertahan lama. Peningkatan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur perairan vital tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak, gas alam, dan diesel, sehingga menambah kegelisahan pasar terhadap biaya energi akan merembet ke inflasi.

Panin Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah 1,49% di level 6.490, yang sejalan dengan Bursa Saham AS dan Bursa Asia yang melemah seiring dengan yield obligasi 10 tahun AS telah menyentuh level 4,97% yang merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023 yang didorong oleh ekspektasi inflasi yang meningkat pasca tren kenaikan harga minyak dampak dari meningkatnya tensi geopolitik. 

“Investor saat ini mencermati tensi geopolitik yang terus meningkat, harga minyak yang sudah diatas >US$100/barel, serta derasnya outflow dana asing,” terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya siang ini.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang kembali melemah menembus Rp17.610/US$ seiring penguatan DXY akibat pasar yang sedang price–in ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September 2026 bulan ini.

(fad)

No more pages