Logo Bloomberg Technoz

Presiden ECB Christine Lagarde memperingatkan bahwa inflasi hanya akan kembali ke target jangka menengah bank sentral sebesar 2% pada akhir 2027. ECB memperkirakan tingkat inflasi rata-rata tahun depan sebesar 2,5%, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,3%, seiring ketegangan di Timur Tengah mendorong harga energi.

Sementara, Bank of Japan (BOJ) juga diproyeksi akan menaikkan suku bunga ke 1,25% untuk menahan laju inflasi. Ini akan menjadi langkah hawkish kedua BOJ setelah menaikkan suku bunga pada Juni menjadi sekitar 1%.  

Risiko inflasi di Jepang cukup tinggi, dengan harga barang korporasi tercatat naik 7,6% pada Agustus, dan menjadi kenaikan tercepat sejak Februari 2023. 

Gelombang hawkish akibat kenaikan harga minyak itu tak berhenti di negara-negara maju. Indonesia juga menghadapi risiko yang sama lewat jalur berbeda, yakni imported inflation, tekanan rupiah, dan ekspektasi inflasi. 

Meski Indonesia memiliki instrumen untuk meredam transmisi kenaikan biaya energi lewat kebijakan harga BBM dan subsidi, harga minyak yang terlalu tinggi membuat biaya itu jadi lebih mahal. 

Inflasi Agustus yang tercatat lebih 'hangat' 3,19%, dari Juli yang hanya 2,88% menjadi indikator bahwa Indonesia juga punya risiko yang sama. Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter untuk menopang pertumbuhan. 

Terlebih, langkah hawkish lebih dulu diambil negara-negara maju juga dapat membuat investor global semakin sensitif terhadap selisih imbal hasil dan risiko. 

Namun, bukan berarti BI otomatis mengikuti langkah yang sama dengan ECB dan BOJ pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan depan. Terlebih, keputusan The Fed masih akan bergantung pada hasil data inflasi dari sisi konsumen atau indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis malam ini waktu Indonesia. 

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi versi CPI lebih rendah dan dapat membuat The Fed masih dapat mempertahankan suku bunga acuannya. 

Begitu juga dengan bank sentral Inggris atau Bank of England (BOE) yang diperkirakan tetap akan mempertahankan suku bunga acuan hinnga akhir 2026, sebelum menaikkannya pada Februari 2027. 

Yield Surat Utang 

Respons pasar terhadap gelombang hawkish ini terlihat pada pergerakan di pasar surat utang. Aksi jual meluas di pasar US Treasury akibat kekhawatiran inflasi itu belum sepenuhnya merembet ke pasar domestik. 

Meski tekanan jual terlihat pada sebagian tenor Surat Utang Negara (SUN), tetapi kenaikan yield di tenor acuan 10 tahun relatif terjaga di 7,1%. 

Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai posisi fundamental Indonesia berbeda dari AS membuat reaksi pasar lebih terbatas. Ia menyebut, angka defisit anggaran Indonesia relatif terjaga di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) sesuai batas dalam undang-undang, sementara AS melebar hingga 5,3% PDB. 

Selain itu, inflasi di Indonesia memang berkali-kali menghangat, tetapi masih berada di kisaran target BI di 1,5-3,5%, dengan rata-rata inflasi bergerak di 2,7%.

Sedangkan inflasi AS meninggi, dan rata-rata 3,4% secara tahunan, jauh di atas target yang ditetapkan The Fed yakni 2%. Bloomberg Economics juga memperkirakan defisit anggaran AS akan melampaui 6% dari PDB pada 2026-2028.

(dsp/aji)

No more pages