Alih Rute
Menanggapi kekhawatiran mengenai gangguan jalur transportasi air akibat pendangkalan sungai di musim kemarau panjang, Tri menjelaskan pemerintah bersama pelaku usaha akan mengalihkan rute pengiriman ke jalur sungai lain yang masih dapat dilayari, termasuk mencari alternatif pasokan dari wilayah lain jika pendangkalan di Kalimantan Tengah kian memburuk.
“Bukan. Ini kalau kering, entah yang Kalimantan Tengah itu kita lewati, atau kita ganti yang lain gitu. Cari jalur [sungai] yang lain,” katanya.
Tri menegaskan strategi rekayasa rute dan optimasi sumber pasokan alternatif ini merupakan kunci utama agar krisis pasokan batu bara pada pembangkit listrik PLN dapat dihindari, sehingga keandalan listrik nasional tetap terjamin selama periode kemarau berlangsung.
Sebelumnya, ekspor batu bara Indonesia dilaporkan telah mengalami penurunan, sebab Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan serta Sungai Mahakam yang berada di Kalimantan Timur menjadi jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara mengalami pendangkalan dan kekeringan imbas fenomena El Niño.
Mengutip Shanghai Metals Market (SMM), Kamis (10/9/2026), ekspor batu bara RI melalui jalur laut tercatat sebesar 36,10 juta ton pada Agustus 2026, turun 23,34% secara tahunan dan 6,54% secara bulanan.
Volume ekspor menurun selama tiga bulan berturut-turut hingga mencapai level terendah pada Agustus dalam lima tahun terakhir.
Tren pengiriman ke negara-negara tujuan utama bervariasi. Ekspor ke China dan India masing-masing mencapai 14,47 juta ton dan 7,10 juta ton—naik 1,26% dan 12,01% secara bulanan—sedangkan pengiriman ke Filipina dan Vietnam turun masing-masing sebesar 26,38% dan 21,58%.
Dalam laporan Argus Media dijelaskan terjadi penurunan kedalaman sungai yang membatasi pergerakan batu bara dari lokasi tambang menuju terminal ekspor.
Argus Media juga mencatat sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman.
"Rendahnya permukaan air di Sungai Barito telah memaksa sejumlah produsen menyatakan force majeure atas pengiriman, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan ekspor ketika El Niño yang kuat mengancam memperpanjang kondisi kering," tulis Argus, Rabu (2/9/2026).
Argus Media mencatat tambang batu bara di wilayah Kalimantan Tengah memproduksi batu bara kalori menengah hingga tinggi, dengan beberapa tambang memproduksi hingga 100.000 ton batu bara per bulan.
Sepanjang tahun lalu, sekitar 45,78 juta ton batu bara diproduksi dari wilayah tersebut dan sekitar 29,54 juta ton di antaranya diekspor.
"Sebagian wilayah hulu Sungai Barito telah sepenuhnya tidak dapat dilalui kapal, dengan sejumlah perusahaan tambang di wilayah tersebut sudah menyatakan force majeure atas pengiriman akibat kondisi tersebut," papar Argus Media.
(smr/wdh)






























