Data inflasi dan respons pasar obligasi AS itu mengindikasikan bahwa sentimen hawkish secara luas sedang merebak di pasar.
Menurut Molly Brooks, ahli strategi suku bunga AS di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg News, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS Federal Reserve pada September dan kemungkinan pengetatan tambahan setelahnya.
Usai laporan data inflasi produsen, persepsi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan kian tebal. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% pekan depan mencapai 71,3%.
Dari dalam negeri belum banyak katalis yang mampu menghadang gelombang hawkish di pasar untuk meredam dampaknya terhadap pelemahan rupiah. Meski data penjualan ritel dan keyakinan konsumen mengalami kenaikan secara tahunan, namun kenaikan itu belum merata pada semua segmen pengeluaran.
Pemulihan penjualan eceran secara tahunan itu belum dibarengi dengan capaian bulanan yang justru masih terkontraksi 0,1%, turun dari bulan kinerja Juni yang tumbuh 0,7%. BI menjelaskan pelemahan itu lantaran ada normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
Analisis Teknikal
Sentimen hawkish dan pergerakan harga minyak berisiko menjegal rupiah. Secara teknikal, nilai tukar rupiah sejatinya masih ada potensi menguat, tetapi terbatas.
Cermati resistance terdekat menuju level Rp17.510/US$ dengan target penguatan selanjutnya Rp17.500/US$. Apabila kembali menjebol kedua resistance tersebut, maka rupiah berpotensi menguat lebih lanjut sampai dengan Rp17.400/US$ sebagai resistance terkuatnya.
Namun jika nilai tukar rupiah melemah, maka support yang menarik dicermati ada di level Rp17.600/US$ dan selanjutnya Rp17.700/US$.
(riset/aji)



























