Logo Bloomberg Technoz

Tri menerangkan rata-rata produksi bulanan untuk komoditas batu bara pada 2026 mengalami penurunan menjadi 60 juta ton dari posisi 2025 yang mencapai 68 juta ton per bulan.

Meski volume produksi batu bara menyusut sekitar 8 juta ton secara bulanan, kontribusi sektor ini terhadap penerimaan negara justru mencatatkan lonjakan. 

"Jadi secara produksi kita secara bulanan turun 8 juta, tapi secara PNBP kita naik Rp7 triliun. Artinya setiap tahun kita mengalami kenaikan Rp1 triliun dengan produksi turun 8 juta ton," katanya.

Lonjakan penerimaan dari sektor nikel juga terjadi di tengah penurunan volume produksi dari para pelaku usaha. 

Tri mengungkap produksi nikel nasional tercatat mengalami penurunan sekitar 13 juta ton bijih (ore) pada periode Agustus 2026, tetapi tetap mampu menghasilkan setoran yang optimal bagi kas negara.

Hingga akhir Agustus 2026, penerimaan dari seluruh subsektor tambang berhasil menembus angka total Rp108 triliun. 

Tri mengungkap torehan PNBP tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan dengan posisi Juli 2026 sebesar Rp92 triliun, sekaligus menunjukkan tren kenaikan yang kuat jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Jadi artinya kalau misalnya kita lihat dengan adanya pengelolaan yang baik, dengan kita tidak jor-joran untuk produksi, itu nyatanya akan memberikan dampak yang positif kepada negara dan kita semua," tuturnya.

Capaian positif pada delapan bulan pertama 2026 ini makin mendekati total target perolehan PNBP minerba sepanjang tahun lalu. Sebagai pembanding, total realisasi PNBP dari subsektor minerba pada keseluruhan tahun 2025 tercatat mencapai Rp135,16 triliun.

(smr/ros)

No more pages