Guna memenuhi lonjakan permintaan tersebut, Galunesia menilai kapasitas produksi aluminium di tingkat hilir nasional masih perlu ditingkatkan secara optimal.
Saat ini Indonesia memiliki kapasitas fasilitas pemurnian (refinery) alumina sebesar 6,3 juta ton per tahun yang diolah dari pasokan sekitar 15 hingga 16 juta ton bijih bauksit, sehingga mampu menghasilkan sekitar 5,3 juta ton alumina per tahun.
“Namun, dari total keluaran alumina tersebut, pasokan yang masuk ke industri peleburan domestik baru berkisar antara 1,4 hingga 1,5 juta ton untuk menghasilkan sekitar 600.000 ton aluminium batangan [ingot] per tahun,” jelas Oktavianus.
Dia menambahkan Indonesia memiliki peluang strategis yang sangat besar untuk mengembangkan rantai pasok industri aluminium dari hulu ke hilir karena memiliki cadangan bauksit terbesar keempat di dunia yang diperkirakan mencapai 2,8 miliar ton.
Menurutnya, pemerintah dan pelaku industri perlu memprioritaskan pengembangan empat sektor industri turunan utama setelah tahap aluminium batangan—yaitu industri kabel, plate sheet, pengecoran logam, dan ekstrusi—agar tercipta nilai tambah ekonomi yang maksimal di dalam negeri.
“Di sini lah kita ingin ke depan kita kembangkan, karena nilai realisasi itu bisa maksimal, nilai tambah itu bisa kita maksimalkan,” ungkapnya.
Sebagai informasi, investasi hilirisasi bauksit sebagai bahan mentah aluminium di Indonesia menembus Rp40,1 triliun pada kuartal II-2026, alias melonjak 193% dari kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun.
Realisasi tersebut membawa bauksit di posisi teratas tujuan investasi hilirisasi di Tanah Air, menggeser dominasi nikel.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi bauksit ini juga mengalami pertumbuhan di atas realisasi investasi mineral lainnya termasuk nikel, tembaga, besi baja, pasir silika, timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, hingga logam tanah jarang.
Adapun, menyitir data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina saat ini mencapai 9 juta ton per tahun. Pabrik pengolahan tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta ton bauksit per tahun.
Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, nantinya kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta ton.
Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta ton per tahun.
Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 ton (potensi 600.000 ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 ton (potensial 1 juta ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 ton dan potensi 1,5 juta ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 ton.
Adapun, beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 ton (potensial 600.000 ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 ton (potensial 250.000 ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 ton.
Sementara itu, proyek lain masih belum beroperasi a.l. Shandong Weiqiao–Harita JV dan Nanshan yang masing-masing memiliki potensi kapasitas 1 juta ton, serta sejumlah proyek dalam tahap rencana seperti milik East Hope Group kapasitas produksi 2,4 juta ton), dan CMOC Group kapasitas produksi 2 juta ton, Bosai Minerals Group kapasitas produksi 1 juta ton.
Selanjutnya, PT Borneo Alumindo Prima Kaltara kapasitas produksi 1 juta ton, Dharma Inti Bersama (DIB) Harita kapasitas produksi 1 juta ton, danPT Cita Mineral Investindo Tbk. kapasitas produksi 500.00 ton.
(smr/wdh)






























