Investor global tercatat kembali masuk ke pasar surat utang pemerintah selama empat bulan beruntun, sehingga rupiah mampu menguat setidaknya 3,5% dari level terendahnya pada Juni lalu.
Namun, yield obligasi AS, US Treasury kembali terkerek membuat selisih yield antara US Treasury 10 tahun dengan obligasi berdenominasi dolar AS (INDON) tenor 10 tahun berada di 91 basis poin (bps). Sementara, dengan obligasi berdenominasi rupiah (INDOGB) 10 tahun masih relatif aman, 224 bps. Namun memegang INDOGB ada risiko nilai tukar yang harus ditanggung investor.
Sementara, kenaikan harga minyak masih menekan laju di pasar saham. Kemarin, IHSG ditutup di posisi 6.678 setelah kehilangan 8,24 poin (0,12%) dibanding penutupan perdagangan sebelumnya.
Sepanjang 2026, IHSG telah anjlok hampir 23% lantaran aksi jual sepanjang tahun sebesar US$4,2 miliar. Akan tetapi, investor berangsur kembali masuk ke pasar dan mencatat aksi jual senilai US$296 juta sepanjang tahun, termasuk pada Juli senilai US$88,5 juta dan Agustus US$68,1 juta. Setidaknya, arus modal masuk ini telah kembali mengangkat IHSG dari titik terendahnya di Juni lalu.
Di tengah berbagai sentimen ini, rupiah spot diperkirakan berpotensi melaju di kisaran Rp17.500-17.550/US$. Sebab, rupiah di pasar offshore kembali beranjak menguat dan memangkas pelemahannya tersisa 0,05% pada 07:50 WIB.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, rupiah berpotensi lanjut menguat pada perdagangan hari ini, usai keberhasilan menembus level resistance sMA-100 potensialnya.
Rupiah punya target penguatan lanjutan menuju Rp17.500/US$ hingga Rp17.460/US$. Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap sampai dengan Rp17.400/US$ bila tertembus resistance kuat dari posisi sebelumnya.
Namun jika rupiah justru melemah, maka support terdekat dapat berbalik arah ke Rp17.550/US$. Sementara rentang laju rupiah dalam support di antara Rp17.600/US$ hingga Rp17.700/US$.
(riset/aji)



























