Dengan begitu, ruang penguatan bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, berpotensi menyempit. Namun, jika angka perkiraan ekonom yang memproyeksikan inflasi inti naik 0,2% secara bulanan dan turun menjadi 2,4% secara tahunan, maka bisa menjadi alasan The Fed untuk kembali menahan FFR di 3,5-3,75%.
Dengan sentimen itu, sebagian besar mata uang tercatat menguat hari ini. Won Korea Selatan menguat paling tajam 0,31%, disusul yen Jepang 0,27%, rupiah 0,26%, dan dolar Taiwan 0,25%.
Sementara, peso Filipina, baht Thailand, dolar Singapura dan yuan China menguat lebih terbatas. Sebaliknya, ringgit Malaysia melemah terbatas bersama dolar Hong Kong.
Tak lama berselang, rupiah spot kembali menguat 0,34% ke Rp17.570/US$ pada 09:08 WIB. Pada saat yang sama, rupiah offshore juga bergerak kuat ke Rp17.588/US$, terapresiasi 0,24%.
Dari dalam negeri, rupiah mendapat tenaga dari aliran modal asing yang masuk ke pasar surat utang, setelah frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berkurang menjadi dua pekan sekali.
Melansir data yang dihimpun Bloomberg per 4 September, aliran modal asing tercatat sebesar US$590,5 juta ke pasar surat utang pemerintah. Dengan sentimen yang berkelindan, rupiah hari ini diperkirakan bergerak di rentang Rp17.500-17.600/US$.
(riset/aji)




























