Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Menguat, Bergerak ke Bawah Rp17.600/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
09 September 2026 09:24

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menguat 0,9% ke Rp17.615/US$ pada pembukaan perdagangan Rabu (9/9/2026), seiring meredanya tekanan dolar Amerika Serikat (AS). Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama melemah ke 98,8 lantaran inflasi AS diperkirakan relatif terkendali berpotensi membuat The Fed mengambil langkah dovish

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi umum (headline) ada di 0,4%, didorong oleh kenaikan harga bensin. Sementara inflasi inti (core) diperkirakan 0,2%. Angka tersebut masih mengindikasikan tingginya inflasi utnuk membuat The Fed nyaman. 

"Jika inflasi inti menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, kemungkinan besar itu cukup bagi The Fed untuk menahan suku bunga pada September," sebut Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya. 


Ia menambahkan, jika inflasi inti secara mengejutkan naik, kelompok hawkish berpotensi memenangkan perdebatan dan mendorong kenaikan suku bunga. 

Bagi rupiah, data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat pekan ini akan diterjemahkan dalam ekspektasi suku bunga The Fed, Fed Fund Rate (FFR). Setelah data tenaga kerja Agustus cukup tangguh dengan bertambah 162 ribu dan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan sejatinya meningkat.