Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali memasang mode risk-off akibat ada kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Meski kondisi eksternal menekan, aliran dana modal masuk ke pasar surat utang hari ini menopang rupiah. Yield surat utang pemerintah tenor acuan 10 tahun turun ke 7,1% dari posisi akhir pekan lalu yang berada di 7,18%.
Begitu juga dengan tenor pendek 1 tahun yang mulai kembali diburu pelaku pasar dengan penurunan yield 2,3 bps ke 6,86%, dan tenor 3 tahun turun 4,7 bps ke 6,78%. Melansir data yang dihimpun Bloomberg pada 7 September, aliran modal masuk tercatat US$116,6 juta secara bulanan ke pasar saham. Sementara per 4 September, aliran modal asing tercatat sebesar US$590,5 juta ke pasar surat utang pemerintah.
Pelaku pasar akan mencermati posisi inflasi AS yang akan menentukan arah suku bunga The Fed, setelah data tenaga kerja AS tercatat bertambah 162 ribu, dan data pengangguran tetap di angka 4,1%, dengan pertumbuhan upah sebesar 3,1%.
AS dijadwalkan merilis data indeks harga produsen pada Kamis 10 September, dan data inflasi atau indeks harga konsumen (CPI) pada 11 September mendatang.
(aji)
































