Logo Bloomberg Technoz

Peran konkrit Coop Coffee Indonesia berada pada tahap origination dan implementation menerjemahkan konsep karbon dan keberlanjutan menjadi aksi nyata di tingkat kebun dan komunitas petani kopi.

(Dok. Coop Coffee Foundation)

Coop Coffee Indonesia bekerja dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan masyarakat yang mengelolanya, dengan membangun kapasitas petani.

Kemudian juga mengembangkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, menghubungkan pengetahuan lokal dengan teknologi, serta memastikan bahwa perubahan di tingkat lahan dapat terdokumentasi dan terukur.

“Dalam model ini, perempuan petani kopi menjadi salah satu aktor utama yang tidak ingin kemudian  menempatkan perempuan hanya sebagai penerima manfaat dari program pemberdayaan,” kata CEO PT Koop Kopi Indonesia, Reza Fabianus di Nusa Dua, Bali, Selasa (8/9). 

“Perempuan namun juga didorong untuk terlibat langsung dalam proses yang selama ini dianggap sangat teknis, termasuk Measurement, Reporting and Verification (MRV),” sambungnya. 

Peran tersebut dapat dimulai dari tingkat paling dasar: dengan memahami apa yang sedang diukur di kebun mereka, melakukan pengamatan dan pencatatan kondisi lahan.

Kemudian juga mengumpulkan informasi melalui perangkat digital, mengenali perubahan praktik pertanian, hingga memahami bagaimana data tersebut digunakan untuk melihat perkembangan karbon, biodiversitas, dan produktivitas.

Dengan cara ini, perempuan petani kopi bukan sekadar sumber informasi bagi sebuah sistem MRV, tetapi menjadi bagian aktif dari proses pengukuran dan pembuktian dampak.

Disinilah Coop Coffee Indonesia menjalankan fungsi penting sebagai penghubung antara teknologi dan masyarakat. Teknologi digunakan bukan sekadar untuk menghasilkan dashboard atau angka karbon, tetapi untuk membawa data dan pengetahuan kembali kepada petani.

Coop Coffee Indonesia membantu menerjemahkan bahasa teknologi dan karbon menjadi sesuatu yang dapat dipahami dan digunakan oleh masyarakat di tingkat tapak. Sebaliknya, pengetahuan dan pengalaman petani menjadi input penting untuk membuat data tersebut memiliki konteks.

PT. Koop Kopi Indonesia melalui program pemberdayaannya lewat entitas Coop Coffee Foundation yang kemudian dengan pendekatan ini telah menciptakan hubungan dua arah. 

Teknologi membawa data dari kebun ke sistem; masyarakat membawa pengetahuan dari kebun ke dalam data. Coop Coffee Indonesia berada di tengah proses tersebut untuk memastikan bahwa keduanya dapat bekerja secara berkesinambungan.

(Dok. Coop Coffee Foundation)

“Karena itu, MRV bukan hanya persoalan verifikasi karbon. MRV menjadi bagian dari proses pemberdayaan,” tegasnya 

Ketika seorang perempuan petani memahami data dari lahannya sendiri, ia memiliki informasi yang lebih kuat untuk mengambil keputusan mengenai praktik pertanian, produktivitas, pengelolaan lingkungan, dan masa depan kebunnya.

Data tidak berhenti sebagai angka untuk kepentingan proyek atau pasar, tetapi kembali menjadi alat pengambilan keputusan bagi petani.

Pendekatan Coop Coffee Indonesia juga melihat bahwa karbon tidak dapat dipisahkan dari biodiversitas dan mata pencaharian. 

Sebuah kebun kopi yang sehat bukan hanya kebun yang mampu menyerap karbon tetapi juga kebun yang memiliki ekosistem yang beragam, tanah dan air yang terjaga, produktivitas yang baik, serta mampu memberikan penghidupan yang lebih kuat bagi keluarga petani.

Karena itu, implementasi di lapangan diarahkan untuk melihat carbon, biodiversity, dan livelihoods sebagai satu kesatuan. Praktik pertanian, keberadaan pohon penaung, kondisi tanah, produktivitas kopi, biodiversitas, serta peran masyarakat menjadi bagian dari sebuah lanskap yang saling terhubung.

Dalam jangka panjang, Coop Coffee Indonesia ingin membangun sebuah model di mana kopi menjadi pintu masuk menuju living landscape economy.

Konsumen tidak hanya mengenal kopi berdasarkan rasa, kualitas, atau asal geografisnya, tetapi juga dapat memahami lanskap yang menghasilkan kopi tersebut: siapa yang merawatnya, bagaimana lahan dikelola, bagaimana biodiversitas dijaga, bagaimana karbon diukur, dan bagaimana masyarakat memperoleh manfaat.

Disinilah teknologi menjadi penting, namun bagi Coop Coffee Indonesia, teknologi bukan tujuan akhir dimana teknolgi merupakan enabler. 

Tujuannya adalah membangun sistem yang membuat masyarakat lebih mampu memahami, mengukur, dan mengambil bagian dalam nilai yang dihasilkan oleh lanskap mereka sendiri.

Dengan demikian, peran Coop Coffee Indonesia bukan sekadar sebagai pelaksana program kopi berkelanjutan namun berperan sebagai origination and implementation platform yang mempertemukan komunitas petani.

“Khususnya perempuan, dengan teknologi, pengetahuan, data, praktik pertanian, biodiversitas, dan peluang ekonomi karbon,” paparnya. 

Model tersebut mengubah cara kita melihat pemberdayaan. Pemberdayaan bukan lagi hanya memberikan pelatihan atau bantuan kepada perempuan, tetapi memberikan mereka kapasitas untuk menjadi bagian dari sistem yang menciptakan dan mengukur nilai.

Perubahan yang ingin dibangun sederhana tetapi fundamental: dari beneficiary menjadi participant, dari participant menjadi data contributor, dan dari data contributor menjadi decision maker.

Pada akhirnya, masa depan ekonomi karbon tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan atau seberapa besar pasar karbon berkembang. 

Kredibilitasnya juga ditentukan oleh kualitas implementasi di tingkat tapak dan oleh keterlibatan masyarakat yang menjaga lanskap tersebut.

“Di titik inilah Coop Coffee Indonesia menempatkan perempuan kopi sebagai bagian penting dari masa depan tersebut,” terangnya. 

Perempuan bukan hanya penerima manfaat dari aksi iklim namun mereka ikut mengukur, memahami, menjaga, dan menentukan perubahan yang terjadi di lanskap mereka.

Ketika perempuan, teknologi, data, kopi, biodiversitas, dan karbon dapat bekerja dalam satu ekosistem, maka sebuah kebun kopi tidak lagi hanya menjadi tempat menghasilkan komoditas.

“Ia menjadi living laboratory untuk membangun masa depan ekonomi karbon yang lebih inklusif, terukur, dan berkelanjutan,” lanjutnya.

Tiga peran utama Coop Coffee Indonesia 

1. Origination & Implementation — membawa agenda karbon dan keberlanjutan dari konsep ke kebun dan komunitas.
2. Technology & MRV Enabler — membangun kapasitas dan menyediakan pendekatan teknologi agar perempuan dapat terlibat langsung dalam pengumpulan, pengukuran, dan pemahaman data.
3. Women & Livelihood Empowerment — memastikan perempuan bukan hanya beneficiary, tetapi menjadi data contributor, climate actor, dan decision maker, sehingga nilai karbon dan keberlanjutan terhubung dengan peningkatan penghidupan.

Peran Coop Coffee Indonesia dalam ekosistem ini dapat ditegaskan melalui tiga fungsi utama: sebagai origination dan implementation platform, sebagai enabler teknologi dan MRV, serta sebagai penggerak pemberdayaan perempuan dan penguatan livelihood. 

Ketiganya saling terhubung dan menjadi fondasi pendekatan Coop Coffee Indonesia dalam membangun ekonomi karbon yang berangkat dari tingkat tapak.

Pertama, Coop Coffee Indonesia berperan sebagai origination dan implementation platform. Artinya, Coop Coffee bekerja dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan komunitas petani, untuk menerjemahkan agenda karbon, biodiversitas, dan keberlanjutan menjadi aksi nyata.

Ini mencakup penguatan kapasitas petani, mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, mengidentifikasi potensi dampak lingkungan, serta memastikan bahwa perubahan yang terjadi di tingkat kebun dapat didokumentasikan dan diukur.

Dengan pendekatan ini, karbon tidak diposisikan sebagai konsep yang datang dari pasar, tetapi sebagai sesuatu yang dibangun dari praktik nyata di lanskap pertanian.
Kedua, Coop Coffee Indonesia berperan sebagai technology and MRV enabler. 

Teknologi digunakan untuk menghubungkan apa yang terjadi di kebun dengan kebutuhan data dalam ekonomi karbon. 

Namun yang lebih penting, Coop Coffee mendorong agar teknologi dan MRV tidak menjadi sistem yang bekerja dari atas ke bawah.

Masyarakat, terutama perempuan petani, perlu memahami apa yang diukur, bagaimana data dikumpulkan, dan untuk apa data tersebut digunakan.

Karena itu, perempuan didorong untuk terlibat dalam pengamatan, pencatatan, pengumpulan informasi lapangan, penggunaan perangkat digital, serta proses pengukuran dan pelaporan.

Dengan demikian, teknologi bukan sekadar alat untuk menghasilkan data, tetapi menjadi sarana untuk membangun kapasitas dan kepemilikan pengetahuan di tingkat komunitas.

Ketiga, Coop Coffee Indonesia berperan sebagai penggerak women empowerment dan livelihood.

Pemberdayaan perempuan tidak berhenti pada menjadikan mereka penerima manfaat dari program pertanian atau iklim. 

Coop Coffee ingin mendorong perubahan posisi perempuan dari beneficiary menjadi participant, dari participant menjadi data contributor, dan dari data contributor menjadi decision maker.

Ketika perempuan memiliki akses terhadap pengetahuan, teknologi dan data dari lanskap mereka sendiri, mereka memiliki posisi yang lebih kuat untuk memahami perubahan, berkontribusi dalam proses MRV, mengambil keputusan, dan pada akhirnya ikut menentukan bagaimana nilai yang dihasilkan dari keberlanjutan lanskap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ketiga peran tersebut kemudian bertemu dalam satu tujuan: membangun kesinambungan antara perempuan, kopi, teknologi, karbon, biodiversitas, dan livelihood. Coop Coffee Indonesia tidak melihat karbon sebagai agenda yang berdiri sendiri.

Karbon, biodiversitas, dan mata pencaharian harus bergerak bersama, karena lanskap yang sehat membutuhkan petani yang memiliki penghidupan yang layak, sementara penghidupan yang berkelanjutan membutuhkan lanskap yang produktif dan tangguh terhadap perubahan iklim.

“Dengan model tersebut, Coop Coffee Indonesia tidak hanya berbicara mengenai pemberdayaan perempuan atau teknologi secara terpisah,” sambungnya 

Yang dibangun adalah sebuah ekosistem di mana perempuan menjadi pelaku, teknologi menjadi enabler, MRV menjadi mekanisme pembuktian, dan lanskap kopi menjadi sumber nilai ekologis sekaligus ekonomi.

“Inilah yang memungkinkan aksi iklim bergerak dari sekadar komitmen menjadi implementasi yang dapat diukur dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di tingkat tapak,” pungkas Reza Fabianus.

(tim)

No more pages

Artikel Terkait