Logo Bloomberg Technoz

“Harusnya nggak terlalu signifikan ya kalau hanya beberapa hari. Kalau hanya beberapa hari bencana saja dan debunya nggak tebal-tebal amat kan ya? Kita lihat ke depan seperti apa,” kata Purbaya.

Namun, letusan sejumlah gunung di Nusantara ternyata dampaknya pernah begitu luar biasa. Mulai dari hampir membuat Homo sapiens (manusia modern) punah, mengilhami penemuan sepeda, hingga menjadi latar belakang terciptanya mahakarya novel Frankenstein.

Berikut sejumlah letusan gunung di Indonesia yang mengubah dunia:

  1. Supervolcano Toba (sekitar 74.000 tahun yang lalu)

Letusan Danau Toba kuno di Sumatera Utara merupakan salah satu letusan supervolcano terbesar yang pernah terjadi di bumi dalam dua juta tahun terakhir, mencapai skala Volcanic Explosivity Index (VEI) 18. Letusan ini menyemburkan sekitar 2.800 km kubik material vulkanik ke atmosfer. 

Debu vulkanik menutup sinar matahari dan memicu musim dingin vulkanik (volcanic winter) yang berlangsung selama 6-10 tahun, serta menurunkan suhu bumi secara signifikan hingga puluhan tahun. Letusan ini mengurangi populasi manusia purba di bumi secara drastis hingga tersisa hanya beberapa ribu individu saja, yang menjadi nenek moyang manusia modern saat ini.

Sebagian besar populasi manusia purba di Asia dan wilayah lain diyakini tewas akibat suhu ekstrim, kegagalan vegetasi, dan krisis pangan pasca letusan. Studi genetika menunjukkan bahwa populasi manusia (Homo sapiens) menyusut drastis hingga hanya tersisa sekitar 3.000-10.000 orang.

Danau Toba adalah kaldera raksasa (kawah vulkanik) yang terbentuk langsung akibat serangkaian letusan Gunung Toba purba. Keluarnya magma dalam jumlah yang sangat besar membuat ruang atau dapur magma di bawah gunung menjadi kosong seketika. Tanpa pilar penopang di bawahnya, atap puncak Gunung Toba runtuh dan ambles ke bawah, meninggalkan cekungan kawah raksasa (kaldera).

Cekungan raksasa tersebut terisi oleh air hujan dan aliran sungai selama ribuan tahun hingga membentuk danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara, Danau Toba. Tekanan magma sisa di dasar kaldera perlahan mendorong dasar danau naik ke permukaan dan membentuk Pulau Samosir yang ada di tengah danau.

  1. Gunung Tambora (1815)

Letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, menduduki peringkat letusan terbesar dalam sejarah tertulis manusia. Mencapai skala VEI 7.

Dampak letusan ini mendunia. Pada 1816, jutaan ton sulfur dioksida yang menyelimuti stratosfer menghalangi cahaya matahari. Eropa dan Amerika Utara mengalami kegagalan panen masal, badai salju di pertengahan musim panas (Juli-Agustus), serta kelaparan hebat. Periode ini sering dikenang sebagai The Year Without Summer.

Mary Shelley (saat itu berusia 18 tahun) bersama calon suaminya Percy Bysshe Shelley dan sastrawan Lord Byron sedang berlibur di dekat danau di Jenewa, Swiss. Akibat efek debu vulkanik Tambora, Eropa dilanda cuaca sangat dingin, hujan terus-menerus, dan langit yang gelap suram sepanjang musim panas. 

Terjebak di dalam rumah akibat cuaca buruk dan kondisi yang mencekam, Lord Byron mengajak semua orang di kelompok itu untuk membuat cerita horor terbaik. Terinspirasi oleh suasana suram di luar dan bermimpi tentang seorang ilmuwan yang menghidupkan kembali mayat, Mary Shelley mulai menulis draft novel Frankenstein. Novel ini kemudian diterbitkan pada 1818.

Tidak hanya Frankenstein, letusan Gunung Tambora juga menginspirasi penemuan sepeda. Dampak abu vulkanik Gunung Tambora membuat Eropa Barat dan Amerika Utara mengalami pembekuan tanah, hujan es, dan badai salju di pertengahan musim panas.

Cuaca dingin dan minimnya sinar matahari menyebabkan kegagalan panen gandum dan oat massal. Kuda adalah moda transportasi utama masyarakat saat itu. Ketika pakan kuda (oat) langka, harganya melonjak drastis hingga tidak terjangkau. Banyak pemilik yang terpaksa menjual atau menyembelih kuda mereka untuk dijadikan makanan agar selamat dari kelaparan.

Melihat krisis transportasi dan matinya banyak kuda di Jerman, seorang penemu bernama Karl Drais berupaya menciptakan alat transportasi manusia yang tidak memerlukan pakan atau tenaga hewan. Pada 1817, ia menciptakan Laufmaschine (mesin jalan), yang juga dikenal dengan nama Dandy Horse atau Draisine.

Alat ini terbuat dari kayu, memiliki dua roda sejajar, stang kemudi, tetapi belum memiliki pedal. Pengendara mengendarainya dengan cara duduk di atas sadel lalu menjejakkan kaki ke tanah untuk meluncur.

Meskipun Laufmaschine masih tergolong sangat sederhana, inovasi roda dua ala Karl Drais inilah yang menjadi fondasi mekanis bagi para penemu dekade-dekade berikutnya

  1. Gunung Krakatau (1883)

Letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda terkenal karena daya hancur suara dan penyebaran dampaknya yang terekam secara realtime lewat jaringan telegraf global pertama di dunia. Suara ledakannya terdengar hingga radius 4.800 km, dan gelombang tekanan udaranya mengelilingi bumi hingga tujuh kali.

Peristiwa ini memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari 30 meter yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa di pesisir Jawa dan Sumatra. Abu vulkaniknya yang tersebar luas menyebabkan fenomena langit sore berwarna merah darah di seluruh dunia selama bertahun-tahun.

Partikel abu vulkanik Krakatau yang tersebar secara global menyebabkan warna matahari terbenam menjadi merah darah di seluruh bagian bumi utara selama bertahun-tahun. Fenomena langit merah membara ini diyakini menjadi inspirasi latar belakang langit dalam lukisan terkenal The Scream karya Edvard Munch.

(aji)

No more pages