“Coal to SNG juga sedang dibahas oleh Danantara. Jadi, keduanya ada dalam orkestrasi dan karena terkait dengan permodalan dan juga offtaker-nya juga antara BUMN,” ungkap Turino.
“Dua-duanya partner kita, offtaker-nya adalah Pertamina Group, jadi yang DME offtaker-nya adalah Patra Niaga, sedangkan yang SNG offtaker-nya adalah PGN,” tambahnya.
Melalui kepastian penyerapan produk oleh sesama BUMN tersebut, PTBA optimistis dapat menjalankan strategi diversifikasi bisnisnya secara bertahap dan terukur demi mendukung pendapatan perseroan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Perseroan memproyeksikan kontribusi dari hasil diversifikasi produk hilirisasi ini mampu menyumbang sekitar 20% terhadap total pendapatan perusahaan dalam kurun empat tahun ke depan.
“Kita bertahap pengembangan diversifikasi ini. Kita sudah targetkan dalam empat tahun ke depan, kontribusi dari produk hilirisasi dari diversifikasi ini sekitar 20% dari total pendapatan perseroan,” ungkapnya.
Sebelumnya terkait DME, PTBA telah mengajukan Bukit Asam Coal Based Industrial Estate (BACBIE) agar dijadikan kawasan ekonomi khusus (KEK), BACBIE juga menjadi lokasi dibangunnya proyek gasifikasi batubara DME Perseroan.
Vice President Hilirisasi PTBA Dahlia Muchtar menyatakan perseroan mengajukan BACBIE menjadi KEK salah satunya agar seluruh kegiatan bisnis yang berada di wilayah tersebut mendapatkan insentif khusus KEK.
“Kalau untuk KEK-nya memang sekarang dalam tahap pengajuan KEK, karena saat ini masih di kawasan industri, lalu untuk pengajuan KEK-nya untuk support di hilirisasi batu bara,” kata Dahlia ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Dahlia menyatakan salah satu insentif yang diharapkan, termasuk untuk proyek DME, merupakan pembebasan pajak atau tax holiday.
“Iya, apa tax holiday, seperti apa. Memang tentu nanti akan banyak barang-barang dari luar. Nah itu kenapa kita bangun BACBIE itu untuk support itu,” tegasnya.
Sementara itu, untuk proyek batu bara menjadi SNG atau gas alam sintetis, PTBA memproyeksikan membutuhkan investasi sebesar US$3,2 miliar atau sekitar Rp52,58 triliun.
Untuk menggarap proyek tersebut, PTBA menggunakan batu bara dengan kalori rendah karena sangat sesuai untuk dikonversi menjadi gas sintetis.
Proyek SNG juga diproyeksi akan memanfaatkan 8,4 juta ton batu bara rendah kalori dengan potensi volume SNG yang dihasilkan sebesar 240 billion british thermal unit per day (BBtud) atau sekitar 1,6 juta ton per tahun.
(wdh)





























