Bloomberg Intelligence menilai kenaikan suku bunga dapat menyebabkan kurva imbal hasil semakin mendatar, sementara tekanan global dan besarnya penerbitan surat utang AS tetap dapat menahan penurunan imbal hasil jangka panjang. Bahkan dalam laporan strategi obligasinya, Bloomberg Intelligence secara eksplisit menyebut stagflasi sebagai salah satu risiko utama.
“Bagi ekonomi dunia, kombinasi tersebut lebih berbahaya dibandingkan perlambatan AS biasa. Jika AS hanya melambat sementara inflasi turun, bank sentral AS dapat menurunkan bunga dan membantu menopang ekonomi dunia,” kata Josua.
Dalam skenario stagflasi, justru terjadi kombinasi yang buruk yakni permintaan AS melemah tetapi suku bunga dan imbal hasil dolar tetap tinggi. Akibatnya perdagangan dunia melemah, biaya pembiayaan global tetap mahal, dolar cenderung kuat, dan dana global lebih berhati-hati masuk ke negara berkembang.
Suku bunga negara maju yang bertahan tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan internasional, memperkuat dolar, meningkatkan gejolak arus modal, dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Jadi efek stagflasi AS bukan hanya melalui perdagangan, tetapi juga melalui suku bunga, dolar, harga aset, arus modal dan komoditas.
Efek Bagi Indonesia
Bagi Indonesia, efek langsung melalui perdagangan cukup material karena AS merupakan salah satu pasar ekspor utama Indonesia.
Selama Januari–Juni 2026, ekspor nonmigas Indonesia ke AS mencapai US$15,82 miliar, kedua terbesar setelah China sebesar US$34,56 miliar. Ekspor ke AS berarti sekitar 11,8% dari keseluruhan ekspor nonmigas Indonesia selama periode tersebut.
Sementara secara komposisi, pada triwulan II, ekspor nonmigas ke AS masih tumbuh kuat 14% secara tahunan, terutama ditopang pakaian, minyak dan lemak nabati, alas kaki, serta produk perikanan.
“Dengan demikian, apabila konsumsi rumah tangga AS akhirnya melemah akibat perlambatan ekonomi dan berkurangnya pendapatan riil, dampaknya dapat langsung dirasakan industri Indonesia yang padat karya, terutama tekstil dan pakaian, alas kaki, furnitur, produk perikanan, serta sebagian barang manufaktur,” kata Josua.
Menurutnya, dampaknya bukan sekadar kehilangan ekspor, tetapi juga dapat merambat ke produksi, jam kerja, upah dan penyerapan tenaga kerja domestik.
Meski begitu Josua menilai efek tidak langsung melalui pasar keuangan berpotensi lebih besar daripada efek perdagangan langsung.
Jika inflasi AS bertahan tinggi, bank sentral AS mempertahankan atau menaikkan bunga dan imbal hasil surat utang AS tetap tinggi, investor akan meminta tambahan imbalan lebih besar untuk memegang SBN Indonesia.
“Rupiah juga menghadapi tekanan karena dolar menjadi lebih menarik. Hal ini semakin penting karena posisi eksternal Indonesia saat ini tidak sekuat tahun lalu,” kata Josua.
Pada triwulan II 2026, defisit transaksi berjalan melebar menjadi 3,34% PDB, terbesar sejak triwulan IV 2018, karena surplus perdagangan barang merosot dari US$8,21 miliar menjadi hanya US$1,32 miliar.
“Kami juga mencatat perlambatan AS dan Tiongkok sudah ikut membatasi permintaan eksternal Indonesia. Jadi apabila stagflasi AS terjadi ketika defisit transaksi berjalan Indonesia masih lebar, rupiah, cadangan devisa dan biaya pembiayaan SBN akan menjadi jalur penularan yang perlu paling diwaspadai,” katanya.
Selain itu, ada satu risiko tambahan yang membuat Indonesia lebih rentan, yaitu harga energi. Stagflasi AS sekarang muncul bersamaan dengan ketegangan Timur Tengah.
“Kami mencatat harga minyak di atas US$90 per barel telah kembali menimbulkan risiko inflasi global dan kemungkinan suku bunga global bertahan tinggi lebih lama,” kata Josua.
Menurutnya, bagi Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak, kenaikan minyak mempunyai efek ganda: memperburuk neraca perdagangan migas sekaligus meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi serta tekanan inflasi.
Hal ini berbeda dengan beberapa eksportir minyak yang justru memperoleh manfaat dari kenaikan harga. Karena itu, skenario terburuk Indonesia bukan sekadar ekonomi AS melambat, melainkan ekonomi AS melambat bersamaan dengan dolar, suku bunga dan minyak yang tetap tinggi.
“Meski demikian, saya belum melihat stagflasi AS otomatis membuat Indonesia mengalami stagflasi. Bantalan ekonomi domestik Indonesia masih cukup kuat,” katanya.
Hal ini terlihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan II masih tumbuh 5,29% dan semester I sebesar 5,45%, sementara investasi tumbuh 6,87%. Inflasi Juli juga hanya 2,88%, dengan inflasi inti 2,76%, masih berada dalam sasaran. Kredit Juli tumbuh 13,0% dan likuiditas perekonomian masih tumbuh 8,3%.
Jadi risiko Indonesia dalam jangka dekat lebih tepat disebut perlambatan pertumbuhan yang disertai tekanan inflasi impor, bukan stagflasi penuh.
“Tetapi jika guncangan AS berlangsung lama, harga minyak bertahan tinggi dan rupiah melemah cukup dalam, tekanan harga dapat meningkat pada saat ekspor dan pertumbuhan melemah. Di situlah risiko stagflasi lokal mulai relevan,” katanya.
(ell)






























